IHSG Smart Focus
INFO PASAR: Data harga saham mengikuti pembaruan dari TradingView dan dapat mengalami keterlambatan.
Analisis Saham Minggu, 04 Oktober 2026 Mr. ROI

ACES apakah bisa bertahan didalam Badai?

Analisis Saham ACES — Fundamental, Prospek, Valuasi, dan Margin of Safety

Tanggal analisis: 4 Oktober 2026
Harga acuan: Rp322 per saham, penutupan 2 Oktober 2026


Kesimpulan singkat

ACES tampak murah secara historis, tetapi margin of safety yang konservatif belum tebal. Pada harga Rp322, PE TTM sekitar 7,21x, sejalan dengan angka sekitar 7,20x di ujung kanan grafik PE Band . Itu di bawah garis −1 standar deviasi 8,11x pada band lima tahun. Namun, jika laba TTM turun 10%, harga sekarang kira-kira setara dengan valuasi 8,11x atas EPS yang sudah turun tersebut. Jadi, rerating ke rata-rata historis 17,28x berpotensi memberi kenaikan besar, tetapi jangan langsung menganggap rerating itu sebagai nilai wajar yang pasti.

 Pandangan saya: perusahaan punya merek, jaringan toko, dan neraca yang relatif kuat; pemulihan operasional berlanjut. Tetapi pertumbuhan laba H1 2026 lebih kuat daripada pertumbuhan bisnis inti, pendapatan lain-lain meningkat tajam, dan arus kas operasi turun nyata. Untuk investor value yang disiplin, saham ini layak masuk watchlist/akumulasi bertahap, tetapi harga Rp322 belum memberi bantalan 25–30% bila nilai konservatifnya ditambatkan ke −1 SD PE. Dengan EPS TTM saat ini, kisaran harga masuk yang memberikan MOS 25–30% terhadap valuasi −1 SD sekitar Rp272–253.

 

1. Fundamental dan kualitas laba

Rekam jejak terbaru

Metrik

FY2025

FY2024

Perubahan YoY

Penjualan bersih

Rp8,64 triliun

Rp8,58 triliun

+0,7%

Laba kotor

Rp4,12 triliun

Rp4,18 triliun

−1,6%

Laba usaha

Rp874,7 miliar

Rp1,167 triliun

−25,0%

Laba bersih pemilik induk

Rp668,7 miliar

Rp892,0 miliar

−25,0%

EPS dasar

Rp38,96

Rp51,97

−25,0%

FY2025 menunjukkan mengapa PE rendah tidak otomatis berarti salah harga: penjualan praktis datar, sedangkan laba usaha dan EPS turun sekitar seperempat. Perlu ada bukti bahwa perbaikan laba 2026 berkelanjutan sebelum memberikan multiple normalisasi yang tinggi. 

Pada H1 2026, hasilnya membaik:

Metrik H1

H1 2026

H1 2025

Perubahan YoY

Penjualan dan pendapatan usaha

Rp4,539 triliun

Rp4,269 triliun

+6,3%

Laba kotor

Rp2,150 triliun

Rp2,020 triliun

+6,4%

Laba bersih pemilik induk

Rp390,3 miliar

Rp292,9 miliar

+33,3%

EPS dasar

Rp22,74

Rp17,06

+33,3%

Margin kotor H1 sekitar 47,4%, praktis sama dengan H1 tahun lalu. Dengan demikian, kenaikan laba belum berasal dari lonjakan margin kotor.

 Kualitas kenaikan laba H1 2026: poin yang paling perlu diuji

Di laporan H1, pendapatan lain-lain naik menjadi Rp235,1 miliar dari Rp129,7 miliar (+81%). Selisih kenaikan pendapatan lain-lain itu setara sekitar 82% dari kenaikan laba sebelum pajak H1 secara aritmetika. Sebaliknya, perkiraan laba operasi sebelum pendapatan lain-lain—laba kotor dikurangi beban penjualan, administrasi, dan beban lain—naik sekitar 7,5%, lebih dekat dengan laju pertumbuhan penjualan 6,3% daripada pertumbuhan laba bersih 33,3%.

 Artinya, pertumbuhan yang dilaporkan memang nyata, tetapi tidak aman untuk mengannualisasi kenaikan laba bersih H1 begitu saja. Pendapatan lain-lain perlu diperiksa komposisi dan keterulangannya pada laporan berikut. Laporan laba rugi interim menampilkan pos ini terpisah; analisis ini tidak mengasumsikan seluruh kenaikannya akan berulang.

 

Konversi laba ke kas

Arus kas bersih dari aktivitas operasi H1 2026 sekitar Rp107,1 miliar, turun dari Rp525,7 miliar pada H1 2025. Itu hanya sekitar 27% dari laba bersih yang diatribusikan kepada pemegang saham induk, dibandingkan sekitar 180% pada H1 2025. Manajemen menyebut realisasi belanja modal H1 sebesar Rp91 miliar; secara kasar, CFO dikurangi capex tersebut hanya sekitar Rp16 miliar. Ini bukan ukuran FCF terstandardisasi, tetapi menunjukkan bahwa konversi laba ke kas H1 2026 lemah dan layak dipantau—misalnya apakah ini terutama akibat modal kerja dan kapan berbalik.

 

Neraca dan likuiditas

Per 30 Juni 2026, laporan menunjukkan kas dan setara kas sekitar Rp1,17 triliun, ditambah investasi jangka pendek sekitar Rp848 miliar. Kewajiban sewa jangka pendek dan panjang berjumlah sekitar Rp989 miliar. Jadi, likuiditas bersih kasar setelah memperhitungkan kewajiban sewa sekitar Rp1,03 triliun bila investasi jangka pendek ikut dihitung; bila hanya kas yang dihitung, sisa setelah kewajiban sewa sekitar Rp178 miliar. Ini bukan rekonsiliasi seluruh liabilitas, tetapi memberi gambaran bahwa neraca tetap memiliki bantalan likuiditas. Kas saja turun dari Rp2,31 triliun pada akhir 2025, sehingga komposisi kas, investasi jangka pendek, pembayaran dividen, capex, dan modal kerja perlu terus dicek. 

Laporan interim juga menyatakan sekitar 87,45% pembelian merupakan impor, sedikit di atas 87,18% setahun sebelumnya. Ini membuat biaya barang dan margin lebih sensitif terhadap kurs, selain faktor harga beli dan kemampuan meneruskan kenaikan biaya kepada pelanggan.

 

2. Prospek bisnis

Katalis pertumbuhan

•         Pemulihan penjualan dan produktivitas toko: manajemen melaporkan SSSG 2,2% hingga Juni 2026; hingga Juli, SSSG YTD 2,0% dan pertumbuhan penjualan 6,5% YoY.

•         Target 2026: pertumbuhan penjualan 6–8% dan SSSG 2–4%. Ini target perusahaan, bukan panduan laba per saham.

•         Ekspansi yang masih berlangsung: target pembukaan 25–30 AZKO dan 40–50 NEKA sepanjang 2026. Hingga Agustus, 15 AZKO dan 16 NEKA telah dibuka. Ekspansi dapat memperluas jangkauan dan basis pendapatan, tetapi kontribusi toko baru perlu dinilai setelah memperhitungkan biaya awal dan produktivitasnya.

•         Omnichannel dan merek: integrasi toko fisik dengan ruparupa, membership, Scan & Shop/Go dan pengembangan rekomendasi digital dapat membantu keterlibatan pelanggan serta pemanfaatan jaringan.

•         Skala dan brand equity: jaringan dan portofolio produk memberikan pengenalan merek serta daya tawar yang bisa menjadi keunggulan; kekuatan ini harus dibuktikan lewat SSSG dan hasil per toko, bukan hanya jumlah gerai.

 

Faktor penahan dan risiko

  • Daya beli ritel belum sepenuhnya kuat: survei Bank Indonesia yang dirilis Agustus memproyeksikan penjualan ritel Juli naik 0,9% YoY, namun turun 0,3% MoM. Hal ini membuat target pertumbuhan ACES sangat bergantung pada eksekusi dan daya saing perusahaan, bukan hanya pemulihan pasar.

  • Risiko kualitas laba: pendapatan lain-lain H1 meningkat jauh lebih cepat daripada penjualan dan laba operasi inti. Jika pos tersebut tidak berulang, pertumbuhan laba ke depan dapat lebih rendah daripada pertumbuhan H1.

  • Risiko konversi kas dan modal kerja: CFO H1 melemah tajam walau laba tumbuh; perhatikan persediaan, pembayaran pemasok, dan pemulihan arus kas pada semester II.

  • Risiko kurs dan impor: porsi pembelian impor yang tinggi dapat memengaruhi biaya pokok dan laba.

  • Eksekusi rebranding dan ekspansi: transisi positioning ke AZKO serta target gerai NEKA memerlukan belanja modal, pengelolaan persediaan, dan konsistensi pengalaman pelanggan. Anggaran capex 2026 Rp400–450 miliar, sementara realisasi H1 baru Rp91 miliar; perusahaan berencana merealisasikan bagian lebih besar pada semester II.

 

3. Valuasi dengan PE Band 5 tahun 



Basis perhitungan

Saya memakai EPS TTM dari laporan terakhir yang tersedia: EPS FY2025 Rp38,96 + EPS H1 2026 Rp22,74 − EPS H1 2025 Rp17,06 = Rp44,64. Dengan harga penutupan Rp322 pada 2 Oktober 2026, PE tersirat adalah 322 / 44,64 = 7,21x. Itu cocok dengan angka sekitar 7,20x . Sumber harga menunjukkan Rp322; laporan keuangan yang dipakai berakhir 30 Juni 2026. 

Garis PE Band pada gambar

PE

Nilai indikatif per saham (PE × EPS TTM Rp44,64)

Upside/(downside) dari Rp322

MOS terhadap nilai indikatif

−2 SD

−1,05x

Tidak bermakna

—

—

−1 SD

8,11x

Rp362

+12,4%

11,1%

Rata-rata

17,28x

Rp771

+139,6%

58,3%

+1 SD

26,44x

Rp1.180

+266,5%

72,7%

+2 SD

35,60x

Rp1.589

+393,5%

79,7%

Hasil nya:

Pada PE 7,21x, ACES diperdagangkan di bawah garis −1 SD 8,11x. Secara relatif terhadap band historis, valuasinya murah.

Penggunaan rata-rata 17,28x menghasilkan nilai Rp771, tetapi angka tersebut adalah skenario normalisasi historis, bukan estimasi nilai intrinsik yang terjamin. Riwayat lima tahun memuat berbagai kondisi laba, sentimen, dan positioning merek; FY2025 sendiri mencatat penurunan EPS 25%.

Skenario konservatif PE −1 SD: sekitar Rp362 per saham. Dari Rp322, kenaikan ke angka itu hanya 12,4%, setara MOS 11,1%—lebih tipis dari bantalan yang lazim dicari investor value.

Uji tekanan EPS: jika EPS TTM turun 10% menjadi sekitar Rp40,18, valuasi pada 8,11x menjadi sekitar Rp326, nyaris sama dengan harga sekarang. Jika EPS turun 20%, nilai pada 8,11x sekitar Rp290, sekitar 10% di bawah harga sekarang.

Ambang harga untuk MOS

Dengan nilai konservatif −1 SD sekitar Rp362:

MOS

Harga beli maksimum indikatif

25%

Rp272

30%

Rp253

 Ini bukan target harga resmi, melainkan disiplin entry berdasarkan asumsi PE −1 SD dan EPS TTM tetap. Bila investor yakin EPS berlanjut dan memakai rata-rata PE lima tahun, hasilnya jauh lebih tinggi—tetapi itu membutuhkan keyakinan tambahan atas kualitas laba dan pemulihan multiple.

 

4. Penilaian akhir

Kualitas bisnis: cukup baik; kualitas laba terbaru: perlu verifikasi; valuasi: murah relatif terhadap sejarah; MOS konservatif: belum memadai untuk posisi besar. Pemulihan penjualan, SSSG, ekspansi terukur, serta likuiditas memberi landasan positif. Namun, penurunan laba FY2025, dominasi kenaikan pendapatan lain-lain terhadap kenaikan laba sebelum pajak H1, dan lemahnya CFO H1 menahan saya untuk memakai PE rata-rata historis sebagai base case. 

Strategi Investasi: Akumulasi bertahap jika anda siap menerima risiko kualitas laba saat ini. Untuk disiplin MOS 25–30% terhadap −1 SD PE, saya lebih nyaman menunggu kisaran Rp253–272, atau menunggu laporan semester II membuktikan arus kas dan laba operasi inti membaik. 


Sumber utama :

1        Laporan keuangan konsolidasian auditan FY2025 dan FY2024 — IDX

2        Laporan keuangan interim ACES H1 2026 — IDX

3        Laporan keuangan interim ACES H1 2025 — IDX

4        Pembaruan bisnis dan target 2026 ACES, 11 September 2026 — AHI

5        Harga dan ringkasan ACES: IDX:ACES — Google Finance


Disclaimer on :Ini adalah pandangan saya berdasarkan data dan asumsi yang tertulis di atas. Analisis ini tidak menjamin hasil di masa depan dan bukan nasihat investasi yang disesuaikan dengan tujuan atau keadaan pribadi pembaca. Setiap keputusan investasi tetap memerlukan penilaian dan tanggung jawab masing-masing.


 


Tools Analisis Valuasi

Kalkulator Margin of Safety (MoS)

Hitung estimasi Nilai Intrinsik dan Harga Beli Target berdasarkan pertumbuhan proyeksi laba per saham (EPS) serta Margin of Safety yang Anda kehendaki.

Rp
Rp

Ringkasan Hasil Analisis

EPS Proyeksi: -
Nilai Intrinsik: -
Harga Beli Target (Berdasarkan Target MoS): -
Margin of Safety Saat Ini: -
Kesimpulan Signal Valuasi:
-
Disclaimer Edukasi: Kalkulator ini hanya untuk tujuan simulasi & edukasi, bukan rekomendasi jual/beli saham. Keputusan investasi ada sepenuhnya di tangan masing-masing investor.