IHSG Smart Focus
INFO PASAR: Data harga saham mengikuti pembaruan dari TradingView dan dapat mengalami keterlambatan.
Analisis Saham Rabu, 21 Oktober 2026 Mr. ROI

MTEL: Bisnis Menara yang Kuat, tetapi Seberapa Menarik Prospeknya?

Analisis saham MTEL Mitratel mengenai fundamental perusahaan, kinerja keuangan, dividen, prospek fiber, dan risiko HSC

Tanggal Analisis : 21 Oktober 2026


Profil sekilas MTEL

Menurut saya, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel memiliki bisnis yang cukup mudah dipahami. Perusahaan ini membangun dan menyewakan menara telekomunikasi kepada operator. Pendapatannya sebagian besar berasal dari kontrak sewa yang berulang, sehingga bisnisnya relatif stabil dan mampu menghasilkan margin keuntungan serta arus kas operasi yang besar.

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan: pertumbuhan bisnisnya masih tergolong rendah.

Pada semester I 2026, pendapatan MTEL hanya tumbuh 2,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, laba bersih naik 1,5%. Angka ini menunjukkan bahwa MTEL memang memiliki bisnis yang relatif stabil, tetapi belum memperlihatkan pertumbuhan laba yang cukup kuat.

Meski demikian, peluang pertumbuhan jangka panjang masih terbuka. Pengembangan bisnis fiber, penambahan penyewa pada menara yang sudah berdiri, serta layanan baru seperti Power-as-a-Service bisa menjadi sumber pertumbuhan tambahan. Namun, menurut saya, semua peluang tersebut tetap harus dibuktikan melalui peningkatan pendapatan dan laba, bukan sekadar rencana perusahaan.

Selain fundamental, ada satu perkembangan lain yang perlu diperhatikan investor, yaitu status HSC MTEL dan rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengeluarkan saham dalam kategori tersebut dari perhitungan IHSG.

HSC adalah singkatan dari High Shareholding Concentration, yaitu kondisi ketika kepemilikan saham suatu perusahaan terkonsentrasi pada sejumlah kecil pemegang saham

Kebijakan ini bukan berarti sahamnya akan dihapus dari bursa, tetapi berpotensi memengaruhi cara sebagian investor memperlakukan saham MTEL.


1. Bagaimana MTEL Menghasilkan Uang?

Bisnis utama Mitratel adalah membangun dan menyewakan menara telekomunikasi. Menariknya, satu menara dapat digunakan oleh beberapa operator sekaligus.

Artinya, ketika ada penyewa tambahan pada menara yang sudah berdiri, Mitratel berpeluang meningkatkan pendapatan tanpa harus mengeluarkan biaya pembangunan menara baru dalam jumlah yang sama.

Pada akhir 2025, Mitratel melaporkan memiliki 40.230 menara dan 63.084 tenant atau penyewa. Jumlah co-location, yaitu penyewa tambahan yang menggunakan menara yang sama, mencapai 22.854, meningkat 11,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Rasio tenancy tercatat sebesar 1,57 kali.

Menurut saya, angka tersebut menunjukkan bahwa aset menara yang sudah dimiliki masih memiliki peluang untuk menghasilkan pendapatan tambahan.

Meski begitu, peningkatan jumlah penyewa tetap perlu diikuti dengan pertumbuhan pendapatan dan laba agar manfaatnya benar-benar terasa bagi perusahaan.

Bisnis menara masih menjadi tulang punggung

Pada 2025, bisnis menara menyumbang sekitar 81,8% dari total pendapatan MTEL. Sementara itu, bisnis fiber berkontribusi sekitar 6%, meskipun pendapatannya tumbuh 18,1% dibandingkan 2024.

Panjang jaringan fiber yang dapat ditagihkan mencapai 70.618 kilometer.

Menurut saya, pertumbuhan fiber memang menarik karena lebih cepat dibandingkan bisnis menara. Namun, kontribusinya terhadap total pendapatan masih relatif kecil. Karena itu, saya belum melihat fiber sebagai pengganti bisnis utama Mitratel dalam waktu dekat.

Untuk menilai keberhasilan ekspansi fiber, saya ingin melihat apakah pertumbuhan jaringan tersebut benar-benar menghasilkan kenaikan pendapatan dan laba yang sepadan dengan modal yang dikeluarkan.


2. Bagaimana Kinerja Keuangan MTEL?

Pada 2025, Mitratel mencatatkan pendapatan sebesar Rp9,53 triliun, meningkat 2,4% dibandingkan tahun sebelumnya. EBITDA mencapai Rp7,83 triliun, naik 1,8%, sedangkan laba bersih sebesar Rp2,12 triliun, tumbuh 0,6%.

EBITDA merupakan ukuran kinerja operasional sebelum memperhitungkan bunga, pajak, penyusutan, dan amortisasi. MTEL mencatatkan margin EBITDA sebesar 82,2%, yang menunjukkan tingginya margin operasional bisnis perusahaan.

Bagaimana dengan kinerja semester I 2026?

Pendapatan MTEL mencapai Rp4,69 triliun, tumbuh 2,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. EBITDA tercatat Rp3,89 triliun, naik 0,8%, sedangkan laba bersih mencapai Rp1,11 triliun, meningkat 1,5%.

Margin EBITDA berada di level 82,9%, sementara margin laba bersih sebesar 23,7%. Perlu diingat, laporan keuangan semester I 2026 tersebut belum diaudit.

Kenaikan laba bersih belum sepenuhnya berasal dari operasional

Ada satu hal yang menurut saya cukup penting untuk diperhatikan. Pada semester I 2026, laba usaha MTEL justru turun menjadi Rp2,04 triliun dari Rp2,09 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, beban pendanaan turun dari Rp569 miliar menjadi Rp483 miliar.

Artinya, kenaikan laba bersih tidak sepenuhnya didorong oleh peningkatan kinerja operasional. Penurunan beban pendanaan juga ikut membantu menjaga laba bersih perusahaan.

Bagi saya, hal ini penting karena pertumbuhan laba yang sehat idealnya didukung oleh perkembangan bisnis utama, bukan hanya terbantu oleh penurunan beban keuangan.

Ke depan, saya ingin melihat apakah MTEL mampu meningkatkan pendapatan dan laba usaha secara lebih konsisten.


3. Arus Kas dan Utang: Seberapa Sehat Kondisi MTEL?

Salah satu hal menarik dari MTEL adalah kemampuannya menghasilkan kas.

Pada semester I 2026, arus kas bersih dari aktivitas operasi mencapai Rp4,63 triliun, jauh di atas laba bersih sebesar Rp1,11 triliun.

Menurut saya, kemampuan menghasilkan arus kas operasi yang besar merupakan salah satu keunggulan bisnis menara. Namun, angka tersebut tidak bisa langsung dianggap sebagai kas bebas yang sepenuhnya tersedia untuk dibagikan kepada pemegang saham.

Perusahaan tetap membutuhkan investasi untuk mengembangkan aset, selain harus memperhitungkan pembayaran kewajiban sewa.

Bagaimana dengan utangnya?

Per 30 Juni 2026, MTEL memiliki kas sebesar Rp1,95 triliun. Sementara itu, total pinjaman jangka pendek dan jangka panjang mencapai sekitar Rp18,50 triliun.

Setelah dikurangi kas, pinjaman bersih perusahaan berada di kisaran Rp16,55 triliun.

Jika dibandingkan dengan EBITDA 2025, pinjaman bersih tersebut setara sekitar 2,1 kali EBITDA. Rasio ini masih terlihat cukup terkelola untuk bisnis dengan pendapatan sewa berulang seperti MTEL.

Namun, ada hal lain yang tidak boleh diabaikan. MTEL juga memiliki kewajiban sewa sekitar Rp2,49 triliun.

Karena itu, menurut saya, investor sebaiknya tidak hanya melihat rasio utang terhadap EBITDA, tetapi juga memperhitungkan kewajiban sewa dan kebutuhan belanja modal perusahaan.

Bisnis yang mampu menghasilkan kas besar tetap perlu menjaga keseimbangan antara pembayaran utang, investasi, dan pembagian dividen.


4. Dividen MTEL: Menarik, tetapi Bagaimana dengan Pertumbuhannya?

Untuk tahun buku 2025, pemegang saham menyetujui pembagian dividen sebesar Rp25,6 per saham, dengan total sekitar Rp2,08 triliun.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 98% dari laba bersih perusahaan.

Bagi investor yang mencari pendapatan dividen, angka ini tentu menarik. Namun, ada sisi lain yang menurut saya perlu dipertimbangkan.

Ketika hampir seluruh laba dibagikan kepada pemegang saham, ruang pendanaan internal untuk ekspansi menjadi lebih terbatas. Jika perusahaan ingin terus mengembangkan bisnis fiber dan layanan baru, kebutuhan investasinya tetap harus dipenuhi.

Karena itu, saya ingin melihat apakah investasi yang dilakukan MTEL mampu memberikan hasil yang sepadan dengan modal yang dikeluarkan.

Menurut saya, dividen besar memang menjadi nilai tambah. Namun, pembagian dividen yang tinggi juga perlu diimbangi dengan pengelolaan kas dan utang yang baik agar tidak menghambat pertumbuhan jangka panjang.


5. Apa Saja Prospek Pertumbuhan MTEL?

Ada beberapa hal yang menurut saya layak dipantau dalam perkembangan bisnis Mitratel ke depan.

A. Penambahan penyewa pada menara yang sudah ada

Peluang pertama datang dari aset menara yang sudah dimiliki.

Dengan menambah penyewa pada menara yang sama, MTEL berpotensi meningkatkan pendapatan tanpa harus selalu membangun menara baru. Inilah salah satu hal yang membuat model bisnis menara menarik.

Karena itu, saya akan terus memantau perkembangan jumlah tenant, co-location, dan rasio tenancy dalam laporan keuangan berikutnya.

B. Ekspansi bisnis fiber

Bisnis fiber mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 18,1% pada 2025. Mitratel juga mengembangkan Fiber-to-the-Tower (FTTT) untuk mendukung kebutuhan konektivitas operator telekomunikasi.

Menurut saya, fiber berpotensi menjadi sumber pertumbuhan tambahan bagi MTEL. Namun, pertumbuhan pendapatan saja belum cukup.

Saya ingin melihat apakah ekspansi tersebut mampu meningkatkan laba dan menghasilkan pengembalian yang memadai dibandingkan modal yang ditanamkan.

Dengan kata lain, pertumbuhan bisnis akan lebih berarti jika juga memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.

C. Layanan energi dan bisnis baru

Mitratel juga menyampaikan rencana pengembangan layanan seperti Power-as-a-Service, Green Tower as a Service, dan berbagai layanan digital lainnya.

Secara sederhana, perusahaan berupaya menawarkan lebih banyak layanan kepada pelanggan, tidak hanya menyewakan tempat pada menara telekomunikasi.

Menurut saya, langkah ini menarik karena dapat membuka sumber pendapatan baru. Namun, kontribusi keuangan dari bisnis tersebut masih perlu dibuktikan.

Saya belum akan menjadikan layanan-layanan baru ini sebagai dasar utama untuk menilai prospek MTEL sebelum terlihat dampaknya terhadap pendapatan dan laba perusahaan.

D. Pertumbuhan kebutuhan konektivitas

Kebutuhan internet dan kapasitas jaringan yang terus berkembang dapat mendukung permintaan jangka panjang terhadap menara dan fiber.

Namun, meningkatnya kebutuhan konektivitas tidak otomatis membuat laba Mitratel tumbuh dengan cepat.

Operator telekomunikasi tetap dapat mengatur anggaran, melakukan konsolidasi jaringan, atau menyesuaikan kebutuhan infrastrukturnya. Akibatnya, penambahan menara maupun penyewa baru bisa saja tumbuh lebih lambat dari yang diharapkan.

Bagi saya, peluang industri tetap perlu dilihat bersama dengan kemampuan perusahaan mengubah peluang tersebut menjadi keuntungan nyata.


6. Risiko HSC MTEL: Apa yang Perlu Dipahami Investor?

Selain fundamental perusahaan, investor MTEL juga perlu memperhatikan perkembangan terkait HSC.

Pada 12 Oktober 2026, BEI dan KSEI mengumumkan status HSC MTEL berdasarkan data kepemilikan per 1 Oktober 2026. Dalam pengumuman tersebut, sejumlah pemegang saham tertentu secara agregat menguasai 95,58% saham MTEL, baik dalam bentuk warkat maupun tanpa warkat.

Menurut saya, angka ini perlu dipahami secara hati-hati.

Angka 95,58% tersebut tidak boleh langsung ditafsirkan sebagai kepemilikan satu pihak. Pengumuman BEI dan KSEI menyebut angka agregat berdasarkan kelompok pemegang saham dan metodologi yang digunakan. Angka tersebut juga tidak bisa langsung disamakan dengan kepemilikan satu pemegang saham ataupun angka free float resmi.

Mengapa status HSC menjadi perhatian?

Pada Juli 2026, BEI menyempurnakan metode penentuan HSC. Untuk saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun, BEI menambahkan ukuran bernama price impact ratio.

Secara sederhana, ukuran ini digunakan untuk melihat perubahan harga saham dibandingkan dengan aktivitas perdagangannya. BEI menyampaikan bahwa penghitungan kriteria tersebut dilakukan setiap tiga bulan.

Hal yang penting dipahami adalah status HSC bukan merupakan sanksi. BEI dan KSEI juga menegaskan bahwa pengumuman tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran aturan.

Jadi, menurut saya, status HSC perlu dilihat sebagai informasi mengenai karakteristik kepemilikan dan perdagangan saham, bukan sebagai bukti bahwa perusahaan sedang melakukan pelanggaran.

Dampaknya terhadap pergerakan saham MTEL

Pada 19 Oktober 2026, Direktur Utama BEI menyampaikan rencana untuk mengeluarkan saham-saham dalam kategori HSC dari perhitungan IHSG.

Menurut pemberitaan ANTARA, saham yang masuk kategori tersebut tetap tercatat di BEI dan masih dapat diperdagangkan. Artinya, kebijakan yang dibahas berkaitan dengan perhitungan indeks, bukan penghapusan saham dari bursa.

Jika kebijakan ini diterapkan, sebagian pengelola dana yang menggunakan IHSG sebagai acuan mungkin perlu menyesuaikan portofolionya. Meski demikian, saya tidak akan langsung menyimpulkan bahwa MTEL pasti mengalami arus jual besar-besaran.

Selain itu, konsentrasi kepemilikan berpotensi membuat jumlah saham yang aktif diperdagangkan lebih terbatas. Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat membuat harga lebih sensitif ketika permintaan atau penawaran berubah.

Bagi saya, inilah risiko yang perlu diperhatikan dari sisi perdagangan saham. Namun, risiko tersebut tidak otomatis berarti fundamental perusahaan memburuk atau aset menaranya kehilangan nilai ekonomis.


Kesimpulan: Apakah MTEL Menarik untuk Jangka Panjang?

Secara pribadi, saya melihat MTEL sebagai perusahaan dengan model bisnis yang cukup kuat. Bisnis menaranya menghasilkan pendapatan berulang, memiliki margin EBITDA tinggi, dan mampu menghasilkan arus kas operasi yang besar. Pembagian dividennya juga menarik bagi investor yang mencari pendapatan rutin.

Namun, saya juga melihat beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, pertumbuhan pendapatan dan laba masih relatif rendah. Kedua, bisnis fiber dan layanan baru memang memiliki peluang, tetapi kontribusinya terhadap kinerja perusahaan masih perlu dibuktikan. Ketiga, utang, kewajiban sewa, dan kebutuhan investasi harus tetap dikelola dengan baik, terutama ketika perusahaan membagikan sebagian besar labanya sebagai dividen.

Di luar itu, perkembangan terkait HSC juga perlu dipantau karena berpotensi memengaruhi likuiditas saham dan cara sebagian investor memperlakukan MTEL dalam portofolionya.

Bagi saya, ada tiga hal utama yang akan terus saya perhatikan ke depan: apakah ekspansi fiber mampu meningkatkan laba, apakah kondisi keuangan tetap terjaga, dan apakah pembagian dividen yang tinggi masih seimbang dengan kebutuhan investasi perusahaan.

Pada akhirnya, perusahaan dengan bisnis yang bagus belum tentu otomatis menjadi saham yang menarik pada harga berapa pun. Investor tetap perlu mempertimbangkan valuasi, prospek pertumbuhan, risiko, dan harga yang harus dibayar.

Karena itu, saya melihat MTEL sebagai perusahaan yang layak dipantau lebih lanjut, tetapi keputusan investasi tetap perlu didasarkan pada penilaian menyeluruh terhadap fundamental, valuasi, dan risiko sahamnya.


Sumber :



 

Tools Analisis Valuasi

Kalkulator Margin of Safety (MoS)

Hitung estimasi Nilai Intrinsik dan Harga Beli Target berdasarkan pertumbuhan proyeksi laba per saham (EPS) serta Margin of Safety yang Anda kehendaki.

Rp
Rp

Ringkasan Hasil Analisis

EPS Proyeksi: -
Nilai Intrinsik: -
Harga Beli Target (Berdasarkan Target MoS): -
Margin of Safety Saat Ini: -
Kesimpulan Signal Valuasi:
-
Disclaimer Edukasi: Kalkulator ini hanya untuk tujuan simulasi & edukasi, bukan rekomendasi jual/beli saham. Keputusan investasi ada sepenuhnya di tangan masing-masing investor.