IHSG Smart Focus
INFO PASAR: Data harga saham mengikuti pembaruan dari TradingView dan dapat mengalami keterlambatan.
Analisis Saham Minggu, 18 Oktober 2026 Mr. ROI

Analisis Saham TSPC 2026: Fundamental, Prospek Bisnis, Valuasi dan Margin of Safety

Analisis saham TSPC PT Tempo Scan Pacific Tbk sektor farmasi dan produk konsumen

Tanggal analisis: 18 Oktober 2026
Harga acuan: Rp2.470 per saham (penutupan Jumat, 16 Oktober 2026)
Kode saham: TSPC
Sektor: Farmasi, produk konsumen, kosmetik, dan distribusi


Menurut saya, PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) merupakan perusahaan dengan bisnis yang relatif mudah dipahami. Perusahaan ini bergerak di bidang farmasi, produk konsumen, kosmetik, serta jasa distribusi. Selain memiliki jaringan distribusi yang luas, TSPC juga mempunyai posisi kas yang cukup kuat untuk mendukung kegiatan operasionalnya.

Karakteristik tersebut membuat saya melihat TSPC sebagai perusahaan yang memiliki fondasi bisnis cukup baik. Namun, perusahaan yang fundamentalnya bagus belum tentu sahamnya menarik untuk dibeli pada setiap harga.

Pada harga penutupan Rp2.470 per saham, rasio Price to Earnings Ratio (PER) TSPC berada di sekitar 7,53 kali. Angka tersebut relatif dekat dengan rata-rata PER historis lima tahun yang berada di sekitar 7,70 kali.

Jika menggunakan PER rata-rata historis sebagai acuan, nilai indikatif saham TSPC berada di sekitar Rp2.525 per saham. Artinya, potensi kenaikan menuju nilai tersebut hanya sekitar 2,2% dari harga penutupan terakhir.

Sebaliknya, apabila valuasi kembali turun ke level minus satu standar deviasi atau -1 SD, harga indikatifnya berada di sekitar Rp2.194 per saham.

Bagi saya, kondisi ini menunjukkan bahwa saham TSPC belum menawarkan diskon yang cukup besar / MOS berdasarkan pendekatan PER historis. Fundamental perusahaan memang cukup solid, tetapi saya tetap ingin melihat apakah pemulihan laba dapat berlanjut sebelum menilai saham ini benar-benar menarik dari sisi valuasi.


Kinerja Keuangan TSPC: Penjualan Naik, tetapi Laba Sempat Melemah

Salah satu hal yang selalu saya perhatikan ketika menganalisis perusahaan adalah hubungan antara pertumbuhan penjualan dan pertumbuhan laba.

Perusahaan yang berhasil meningkatkan penjualan belum tentu mampu meningkatkan keuntungan dalam jumlah yang sama. Kenaikan biaya operasional, pemasaran, dan distribusi dapat menggerus laba meskipun pendapatan terus bertambah.

Kinerja keuangan sepanjang 2025

Pada 2025, TSPC mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp14,005 triliun, meningkat sekitar 2,6% dibandingkan Rp13,65 triliun pada 2024.

Namun, kenaikan penjualan tersebut belum diikuti peningkatan laba. Laba bersih setelah pajak justru turun sekitar 2,8% menjadi Rp1,407 triliun.

Berikut beberapa angka yang menjadi perhatian saya:

  • Penjualan bersih: Rp14,005 triliun, naik sekitar 2,6%.
  • Laba kotor: Rp5,32 triliun, naik sekitar 2,9%.
  • Laba usaha: Rp1,69 triliun, turun sekitar 6,1%.
  • Laba bersih setelah pajak: Rp1,407 triliun, turun sekitar 2,8%.
  • Beban penjualan: sekitar Rp3,02 triliun, meningkat sekitar 8,6%.

Menurut saya, kenaikan beban penjualan yang lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan perlu diperhatikan. Perusahaan memang masih mampu meningkatkan penjualan, tetapi biaya untuk menjual dan memasarkan produknya juga semakin besar.

Jika kondisi ini terus berlangsung, pertumbuhan pendapatan belum tentu menghasilkan pertumbuhan laba yang sebanding.

Kinerja semester I 2026 mulai membaik

Kabar baiknya, kinerja TSPC pada semester I 2026 menunjukkan perbaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penjualan bersih meningkat sekitar 7,7% menjadi Rp7,11 triliun dari Rp6,60 triliun pada semester I 2025.

Laba usaha juga naik sekitar 9,4% menjadi Rp885,6 miliar. Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan induk meningkat menjadi Rp774,8 miliar dari Rp702,2 miliar, atau tumbuh sekitar 10,3%.

Laba per saham atau Earnings Per Share (EPS) semester I juga meningkat menjadi Rp172 dari sebelumnya Rp156.

Selain itu, margin kotor dan margin usaha mengalami perbaikan tipis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Bagi saya, perkembangan ini merupakan sinyal positif. Pertumbuhan laba yang lebih cepat daripada penjualan menunjukkan bahwa profitabilitas perusahaan mulai membaik.

Meski demikian, saya belum ingin langsung menyimpulkan bahwa masalah biaya telah selesai.

Pada kuartal I 2026, penjualan dilaporkan tumbuh 4,12%, tetapi laba bersih turun 14,03% menjadi Rp351,81 miliar. Dengan membaiknya hasil semester I secara keseluruhan, kinerja kuartal II mengindikasikan pemulihan yang lebih kuat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Saya akan tetap memantau laporan keuangan berikutnya untuk melihat apakah perbaikan ini dapat dipertahankan.

Bagi investor jangka panjang, konsistensi pertumbuhan laba jauh lebih penting daripada sekadar melihat satu periode laporan keuangan yang bagus.

Neraca Keuangan TSPC: Kas Menjadi Salah Satu Kekuatan

Selain laba dan pertumbuhan pendapatan, saya juga memperhatikan kondisi neraca perusahaan.

Pada 30 Juni 2026, TSPC memiliki total aset sekitar Rp14,20 triliun dan total liabilitas sekitar Rp3,98 triliun. Kas dan setara kas tercatat sekitar Rp5,37 triliun.

Secara sederhana, jumlah kas dan setara kas tersebut lebih besar daripada total liabilitas perusahaan.

Menurut saya, kondisi ini memberikan bantalan keuangan yang cukup baik. Perusahaan memiliki sumber daya keuangan untuk mendukung operasional, memenuhi kewajiban, dan membiayai kebutuhan bisnisnya.

Namun, ada satu hal yang tetap perlu dipahami. Tidak seluruh kas perusahaan dapat dianggap sebagai uang yang bebas digunakan untuk investasi atau dibagikan kepada pemegang saham.

TSPC juga menjalankan bisnis distribusi yang membutuhkan modal kerja untuk membiayai persediaan dan piutang usaha.

Karena itu, saya tidak hanya melihat besarnya kas, tetapi juga memperhatikan arus kas operasional, kebutuhan modal kerja, dan perkembangan utang perusahaan.

Neraca yang kuat merupakan nilai tambah, tetapi tetap harus didukung kemampuan bisnis menghasilkan kas secara berkelanjutan.


Sumber Pendapatan dan Prospek Pertumbuhan Bisnis TSPC

TSPC menjalankan tiga kelompok bisnis utama, yaitu farmasi, produk konsumen dan kosmetik, serta jasa distribusi.

Pada semester I 2026, penjualan eksternal dari masing-masing segmen tercatat sekitar:

  • Farmasi: Rp2,41 triliun.
  • Produk konsumen dan kosmetik: Rp2,48 triliun.
  • Jasa distribusi: Rp2,22 triliun.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa pendapatan perusahaan tidak hanya bergantung pada satu kelompok produk.

Namun, perlu diingat bahwa besarnya penjualan suatu segmen tidak selalu mencerminkan besarnya keuntungan yang dihasilkan. Setiap segmen memiliki struktur biaya dan tingkat margin yang berbeda.

1. Produk konsumen dan kosmetik

Pada 2025, penjualan produk konsumen dan kosmetik meningkat sekitar 6,7% menjadi Rp4,86 triliun, setara dengan sekitar 34,7% dari total penjualan konsolidasi.

Jika dilihat lebih rinci, penjualan produk konsumen tumbuh sekitar 4,5% menjadi Rp3,82 triliun. Sementara itu, penjualan kosmetik tumbuh lebih cepat, yaitu sekitar 15,5% menjadi Rp1,04 triliun.

Menurut saya, pertumbuhan kosmetik cukup menarik untuk diperhatikan. Produk kosmetik berpotensi menjadi salah satu pendorong pertumbuhan TSPC ke depan.

Namun, saya tidak ingin hanya melihat pertumbuhan penjualannya. Saya juga akan memperhatikan apakah pertumbuhan tersebut mampu menghasilkan laba yang lebih besar atau justru diikuti peningkatan biaya promosi dan pemasaran.

Dalam pendekatan value investing, pertumbuhan penjualan akan lebih menarik apabila disertai profitabilitas yang sehat dan arus kas yang baik.

2. Jaringan distribusi yang luas

Keunggulan lain TSPC adalah jaringan distribusinya.

Laporan tahunan perusahaan menyebutkan bahwa TSPC melayani saluran farmasi, modern trade, dan general trade melalui 46 cabang di Indonesia.

Jaringan tersebut membantu perusahaan menjangkau konsumen dan mendistribusikan produk-produknya, termasuk produk dari prinsipal lain.

Bagi saya, jaringan distribusi yang luas dapat menjadi keunggulan kompetitif karena membangun jangkauan pasar membutuhkan waktu, sumber daya, dan kemampuan operasional.

Namun, jaringan yang luas juga membutuhkan biaya. Perusahaan harus membiayai tenaga kerja, logistik, fasilitas distribusi, persediaan, serta kebutuhan modal kerja lainnya.

Karena itu, saya akan menilai keunggulan distribusi TSPC berdasarkan kemampuannya menghasilkan keuntungan, bukan hanya berdasarkan luasnya jaringan yang dimiliki.

3. Peluang bisnis biofarmasi

Katalis pertumbuhan lain yang menarik perhatian saya adalah rencana pengembangan bisnis biofarmasi.

Pada Juli 2026, TSPC mengumumkan kerja sama dengan perusahaan farmasi asal China, Chia Tai Tianqing, untuk membentuk perusahaan patungan yang berfokus pada produk bioterapi.

Menurut saya, kerja sama ini berpotensi membuka peluang di pasar farmasi yang lebih spesialis sekaligus memberikan akses terhadap teknologi baru.

Jika berhasil dikembangkan, bisnis tersebut dapat menjadi sumber pertumbuhan tambahan bagi TSPC dalam jangka menengah hingga panjang.

Bisnis baru juga membutuhkan proses pengembangan, perizinan, pemasaran, dan penerimaan pasar. Semua itu memerlukan waktu serta biaya.

Karena itu, saya memperlakukan bisnis biofarmasi sebagai peluang pertumbuhan yang masih perlu dibuktikan, bukan sebagai keuntungan yang sudah pasti akan diterima perusahaan.


Risiko Investasi Saham TSPC yang Perlu Diperhatikan

Meskipun memiliki sejumlah kelebihan, menurut saya TSPC tetap memiliki risiko yang perlu dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan investasi.

1. Kenaikan biaya operasional dan pemasaran

Risiko pertama adalah tekanan biaya.

Pada 2025, beban penjualan meningkat lebih cepat daripada penjualan, sementara laba usaha mengalami penurunan.

Saya akan memantau apakah TSPC mampu mengendalikan biaya pemasaran dan distribusi sambil mempertahankan pertumbuhan penjualannya.

Jika biaya terus meningkat tanpa diikuti pertumbuhan laba yang memadai, profitabilitas perusahaan dapat tertekan.

2. Persaingan dan daya beli konsumen

Laporan tahunan TSPC menyebutkan adanya kondisi konsumen yang lebih selektif serta persaingan yang intensif pada 2025.

Dalam kondisi seperti ini, konsumen bisa menjadi lebih sensitif terhadap harga dan beralih ke produk yang lebih murah.

Perusahaan mungkin harus meningkatkan promosi atau menyesuaikan harga agar tetap kompetitif. Jika dilakukan secara berlebihan, langkah tersebut dapat mengurangi margin keuntungan.

Bagi saya, kemampuan mempertahankan merek, pangsa pasar, dan profitabilitas merupakan hal penting untuk dipantau.

3. Risiko bahan baku dan nilai tukar

Perubahan harga bahan baku serta pergerakan nilai tukar rupiah juga dapat memengaruhi biaya produksi dan distribusi.

Apabila biaya bahan baku meningkat sementara perusahaan kesulitan menaikkan harga jual, margin keuntungan berpotensi tertekan.

Risiko ini perlu diperhatikan terutama jika perusahaan memiliki kebutuhan bahan baku impor atau kewajiban dalam mata uang asing.

4. Persaingan di industri farmasi dan FMCG

TSPC beroperasi di industri farmasi dan Fast-Moving Consumer Goods (FMCG), yaitu barang konsumsi yang relatif cepat terjual karena sering dibeli dan digunakan sehari-hari.

Kedua industri tersebut memiliki persaingan yang ketat. Perusahaan harus menjaga kualitas produk, memperkuat merek, mempertahankan jaringan distribusi, serta terus beradaptasi dengan kebutuhan konsumen.

Menurut saya, perusahaan yang memiliki merek kuat dan jaringan distribusi luas memang memiliki keunggulan. Namun, keunggulan tersebut tetap perlu tercermin dalam pertumbuhan laba dan kemampuan menghasilkan kas.

5. Risiko pengembangan bisnis biofarmasi

Peluang bisnis biofarmasi juga memiliki risiko tersendiri.

Pengembangan produk bioterapi membutuhkan teknologi, investasi, proses perizinan, serta penerimaan pasar yang tidak selalu mudah diprediksi.

Jika investasi awal membesar atau produk membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan pendapatan, manfaatnya bagi pemegang saham juga dapat tertunda.

Karena itu, saya akan menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum memasukkan potensi keuntungan bisnis tersebut secara agresif ke dalam perkiraan nilai perusahaan.

6. Konsentrasi kepemilikan saham

Data pasar yang saya peroleh menunjukkan bahwa PT Bogamulia Nagadi memiliki sekitar 91,06% saham TSPC.

Kepemilikan yang sangat terkonsentrasi berarti porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik relatif terbatas.

Kondisi ini berpotensi memengaruhi likuiditas saham, terutama bagi investor yang bertransaksi dalam jumlah besar.

Menurut saya, likuiditas tetap perlu diperhatikan karena investor tidak hanya harus memikirkan harga saat membeli, tetapi juga kemudahan menjual saham ketika dibutuhkan.


Valuasi Saham TSPC Menggunakan PE Band Lima Tahun

Setelah melihat fundamental dan prospek bisnisnya, pertanyaan berikutnya adalah: apakah harga saham TSPC saat ini cukup menarik untuk dibeli?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya menggunakan pendekatan PE Band lima tahun sebagai salah satu acuan valuasi.

PE BAND 5 Tahun Saham TSPC di Aplikasi Stockbit

Dengan menggunakan Data PE Band lima tahun dari aplikasi Stockbit tersebut maka didapat nilai indikatif persaham sebagai berikut :

Catatan perhitungan: Nilai indikatif dihitung menggunakan EPS TTM sekitar Rp328 dikalikan dengan masing-masing tingkat PE. Angka dibulatkan untuk memudahkan pembacaan.

Harga acuan Rp2.470 menggunakan harga penutupan pasar pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Apa arti hasil valuasi tersebut?

Dari tabel di atas, PE TSPC saat ini sekitar 7,53 kali, relatif dekat dengan rata-rata historis lima tahun sebesar 7,70 kali.

Jika menggunakan rata-rata historis sebagai acuan, selisih antara nilai indikatif dan harga pasar hanya sekitar 2,2%.

Menurut saya, selisih tersebut belum memberikan Margin of Safety yang memadai. Ada kemungkinan harga saham naik apabila pasar memberikan valuasi lebih tinggi, tetapi ruang kenaikan menuju rata-rata historis masih terbatas ditambah market dan ekonomi dunia yang sekarang lagi tidak stabil.

Sebaliknya, jika pasar memberikan valuasi yang lebih rendah, harga saham juga masih memiliki ruang untuk turun.

Pada level PER -1 standar deviasi, nilai indikatif TSPC berada di sekitar Rp2.194. Angka ini sekitar 11,2% di bawah harga penutupan Rp2.470.

Sementara itu, pada level -2 standar deviasi, nilai indikatifnya berada di sekitar Rp1.866. Skenario tersebut menggambarkan kemungkinan penurunan yang lebih besar apabila valuasi kembali melemah.

Tentu saja, PE Band bukan alat untuk memastikan harga terendah atau tertinggi. Pendekatan ini hanya membantu saya memahami posisi valuasi saat ini dibandingkan dengan sejarahnya.

Margin of Safety Saham TSPC: Berapa Harga yang Lebih Menarik?

Dalam value investing, saya tidak hanya mencari perusahaan yang bagus. Saya juga mencari harga pembelian yang memberikan jarak antara harga pasar dan perkiraan nilai wajar.

Jarak tersebut dikenal sebagai Margin of Safety (MOS).

Semakin besar diskon terhadap nilai wajar yang digunakan, semakin besar bantalan yang tersedia apabila perkiraan saya tidak sepenuhnya tepat. Namun, MOS tidak menjamin investor terhindar dari kerugian, terutama jika kondisi fundamental perusahaan memburuk.

Saya akan menggunakan nilai indikatif sekitar Rp2.525 berdasarkan PE rata-rata historis, maka gambaran target harga beli dengan beberapa tingkat MOS nya adalah sebagai berikut:

Angka-angka tersebut bukan target harga pasti dan bukan jaminan bahwa saham akan turun ke level tersebut. Ini merupakan simulasi untuk membantu saya menentukan harga pembelian yang memberikan bantalan lebih besar berdasarkan asumsi PER historis.

Bagi investor yang mengutamakan Margin of Safety, menurut saya tidak perlu terburu-buru membeli hanya karena sebuah saham terlihat murah dari sisi PER.

Saya juga perlu memastikan bahwa laba perusahaan cukup berkelanjutan, neracanya sehat, dan prospek bisnisnya masih masuk akal.

Selain itu, nilai wajar dapat berubah jika pertumbuhan laba, profitabilitas, atau risiko bisnis mengalami perubahan. Karena itu, perhitungan MOS perlu diperbarui mengikuti perkembangan laporan keuangan.


Kesimpulan: Apakah Saham TSPC Menarik untuk Investasi?

Secara keseluruhan, saya menilai TSPC memiliki sejumlah kelebihan yang layak diperhatikan investor jangka panjang.

Perusahaan memiliki produk farmasi dan konsumen yang dikenal, jaringan distribusi luas, posisi kas yang kuat, serta peluang pertumbuhan dari bisnis kosmetik dan biopharmaceutical.

Kinerja semester I 2026 juga memberikan sinyal positif karena penjualan dan laba meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, saya tetap memperhatikan penurunan laba pada 2025 dan kenaikan beban penjualan yang lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan. Bagi saya, keberlanjutan pemulihan laba menjadi salah satu faktor penting dalam menilai prospek perusahaan.

Dari sisi valuasi, harga penutupan Rp2.470 per saham menghasilkan PER sekitar 7,53 kali, relatif dekat dengan rata-rata historis lima tahun sebesar 7,70 kali. sehingga Margin of Safety masih terbatas.

Ditambah situasi market sekarang yang sangat volatil, saya lebih cendrung menggunakan MOS sekitar 20% ke atas. Namun, kisaran tersebut tetap harus dievaluasi bersama perkembangan laba, arus kas, dan risiko bisnis.

Pandangan akhir saya: TSPC merupakan perusahaan yang fundamentalnya cukup solid, tetapi pada harga Rp2.470 saya belum melihat diskon / MOS yang besar berdasarkan PER historis. Saya lebih memilih bersikap selektif dan menunggu harga yang memberikan Margin of Safety lebih menarik, sambil memantau apakah perbaikan kinerja semester I 2026 dapat berlanjut.

Bagi saya, dalam value investing, perusahaan bagus memang penting. Namun, membeli perusahaan bagus pada harga yang masuk akal dengan bantalan risiko yang memadai juga tidak kalah penting.


Sumber :


 


Tools Analisis Valuasi

Kalkulator Margin of Safety (MoS)

Hitung estimasi Nilai Intrinsik dan Harga Beli Target berdasarkan pertumbuhan proyeksi laba per saham (EPS) serta Margin of Safety yang Anda kehendaki.

Rp
Rp

Ringkasan Hasil Analisis

EPS Proyeksi: -
Nilai Intrinsik: -
Harga Beli Target (Berdasarkan Target MoS): -
Margin of Safety Saat Ini: -
Kesimpulan Signal Valuasi:
-
Disclaimer Edukasi: Kalkulator ini hanya untuk tujuan simulasi & edukasi, bukan rekomendasi jual/beli saham. Keputusan investasi ada sepenuhnya di tangan masing-masing investor.