IHSG Smart Focus
INFO PASAR: Data harga saham mengikuti pembaruan dari TradingView dan dapat mengalami keterlambatan.
Edukasi Jumat, 16 Oktober 2026 Mr. ROI

Di Balik IHSG yang Anjlok, Ada Kesedihan dan Peluang


IHSG anjlok, saham-saham kebakaran, dan portofolio ikut merah menyala.

Jujur, di satu sisi saya juga sedih melihat portofolio ikut memerah. Rasanya tentu tidak menyenangkan melihat nilai investasi turun tajam dalam waktu singkat. Apalagi jika saham yang kita miliki sebelumnya dibeli dengan harapan bisa memberikan keuntungan dalam jangka panjang.

Namun, di sisi lain, saya juga melihat adanya peluang. Sebagai investor value investing, penurunan harga saham bisa menjadi kesempatan untuk membeli perusahaan berkualitas dengan harga yang lebih murah daripada nilai wajarnya.

Tentu saja, tidak semua saham yang turun otomatis menjadi murah. Ada saham yang turun karena sentimen pasar, tetapi ada juga yang turun karena kondisi bisnisnya memang memburuk. Karena itu, saya tetap harus selektif.

Lalu, apa sebenarnya yang terjadi dengan IHSG? Mengapa pasar saham Indonesia mengalami tekanan begitu besar, dan bagaimana saya menyikapinya sebagai investor?

Mari kita bahas.

1. IHSG Anjlok, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Pada Jumat, 16 Oktober 2026, IHSG dibuka anjlok 8,01% ke level 5.393,92. Akibat penurunan tajam tersebut, perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dihentikan sementara selama 30 menit sesuai ketentuan yang berlaku.

Dalam perkembangan perdagangan berikutnya, Kontan melaporkan penurunan sekitar 11,57%.

Jadi, angka 8,01% merupakan penurunan saat pembukaan perdagangan, sedangkan angka 11,57% menggambarkan penurunan yang dilaporkan pada waktu perdagangan berikutnya.

Kejadian ini tentu membuat banyak investor khawatir. Tidak sedikit yang mungkin bertanya-tanya apakah ini saatnya menjual saham, bertahan, atau justru mulai mencari peluang membeli.

Menurut saya, sebelum mengambil keputusan, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang memicu kejatuhan pasar kali ini.

2. Pengumuman MSCI Menjadi Salah Satu Pemicu Tekanan Pasar

Salah satu pemicu langsung tekanan pasar adalah pengumuman MSCI yang membuka konsultasi mengenai kemungkinan menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Perlu dipahami bahwa keputusan final belum dibuat. MSCI dijadwalkan menerima masukan hingga 30 April 2027 dan mengumumkan keputusan paling lambat 30 Juni 2027.

Mengapa kemungkinan perubahan status tersebut membuat pasar khawatir?

Banyak pengelola dana investasi global menggunakan indeks MSCI sebagai acuan dalam menentukan alokasi investasi. Jika klasifikasi pasar Indonesia berubah, ada kekhawatiran sebagian dana investasi akan mengurangi eksposurnya terhadap saham-saham Indonesia.

Namun, menurut saya, persoalan ini bukan hanya tentang kemungkinan keluarnya dana asing dari pasar saham Indonesia.

Ada persoalan yang lebih mendasar, yaitu kepercayaan terhadap transparansi dan tata kelola pasar.

MSCI menyoroti sejumlah persoalan, termasuk transparansi kepemilikan saham, dugaan transaksi yang terkoordinasi, serta belum terlihatnya bukti perbaikan tata kelola dan penegakan aturan secara konsisten.

Bagi saya, hal-hal seperti ini memang penting untuk diperhatikan. Pasar saham yang sehat bukan hanya pasar yang harga sahamnya terus naik, melainkan pasar yang memiliki keterbukaan informasi, aturan yang jelas, dan pengawasan yang berjalan dengan baik.

Jika kepercayaan investor menurun, dampaknya bisa meluas dan tidak hanya dirasakan dalam satu atau dua hari perdagangan.

REKOMENDASI PRODUK
Buku Pilihan untuk Investor
Buku investasi
Lihat Produk di Shopee

3. Apakah Kejatuhan IHSG Hanya Disebabkan oleh MSCI?

Menurut saya, tidak sesederhana itu.

Tekanan terhadap pasar saham Indonesia sebenarnya sudah terasa sebelumnya. Pada akhir Januari 2026, IHSG juga sempat mengalami tekanan setelah MSCI membekukan sejumlah perubahan indeks saham Indonesia.

Pada pembukaan perdagangan 16 Oktober 2026, IHSG tercatat telah turun sekitar 41% dari rekor tertingginya pada Januari.

Hal ini menunjukkan bahwa tekanan pasar sudah berlangsung sebelum pengumuman MSCI terbaru.

Dengan demikian, pengumuman tersebut lebih tepat dipandang sebagai salah satu faktor yang memperburuk kekhawatiran investor, bukan satu-satunya penyebab kejatuhan IHSG.

Menurut saya, kita perlu membedakan antara kepanikan pasar dalam jangka pendek dan persoalan mendasar yang memang bisa memengaruhi nilai investasi dalam jangka panjang.

Penurunan harga saham memang bisa terjadi karena kepanikan. Namun, jika penyebabnya berkaitan dengan kualitas tata kelola, transparansi, atau fundamental perusahaan, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya dengan menunggu sentimen pasar membaik.

4. Kejatuhan Besar IHSG yang Pernah Terjadi

Kejatuhan pasar saham bukanlah hal baru. Dalam sejarahnya, IHSG pernah mengalami penurunan besar akibat krisis ekonomi, masalah keuangan global, dan kepanikan investor.

Berikut beberapa episode penting yang bisa menjadi bahan pembelajaran. 

Histori Kejatuhan IHSG


Catatan: Angka pada periode 1997–1998, 2008, dan 2020 menggambarkan penurunan selama periode krisis. Sementara itu, angka 2026 menggambarkan pergerakan dalam satu hari perdagangan. Karena rentang pengukurannya berbeda, angka-angka tersebut tidak bisa dibandingkan secara langsung.

Daftar ini juga hanya mencakup beberapa episode besar, bukan seluruh periode ketika IHSG pernah mengalami koreksi.

Dari sejarah tersebut, kita bisa belajar bahwa pasar saham dapat mengalami penurunan yang sangat dalam. Namun, setiap krisis memiliki penyebab dan karakteristik yang berbeda. Karena itu, kita tidak bisa memastikan bahwa kejatuhan kali ini akan berakhir dengan pola yang sama seperti krisis sebelumnya.

5. Di Balik Portofolio Merah, Saya Juga Melihat Peluang

Jujur saja, melihat portofolio merah menyala tentu bukan pengalaman yang menyenangkan.

Sebagai investor, saya juga merasakan dampak penurunan harga saham. Nilai portofolio yang sebelumnya terlihat baik bisa berkurang cukup besar ketika pasar mengalami tekanan.

Namun, saya mencoba melihat situasi ini dari dua sisi.

Di satu sisi, ada risiko kerugian dan ketidakpastian yang harus dihadapi. Di sisi lain, ada kemungkinan munculnya peluang untuk membeli saham dengan harga yang lebih menarik.

Inilah salah satu hal yang membuat saya tertarik dengan pendekatan value investing.

Bagi saya, harga saham dan nilai sebuah perusahaan tidak selalu bergerak sejalan dalam jangka pendek. Ketika pasar panik, harga saham perusahaan yang masih memiliki bisnis sehat pun bisa ikut turun.

Jika harga saham turun lebih dalam daripada penurunan nilai intrinsiknya, peluang investasi mungkin muncul.

Tetapi, saya tidak ingin langsung menyimpulkan bahwa semua saham yang anjlok sekarang sudah murah. Saya tetap perlu memeriksa kondisi bisnis, kemampuan menghasilkan keuntungan, arus kas, utang, dan tata kelola masing-masing perusahaan.

Saham yang turun 30% belum tentu lebih murah daripada saham yang hanya turun 10%. Semuanya bergantung pada harga awal, nilai wajarnya, serta perubahan kondisi bisnis perusahaan.

Karena itu, bagi saya, penurunan IHSG bukan alasan untuk langsung membeli semua saham yang harganya jatuh. Ini justru saatnya lebih teliti memilih perusahaan.

6. Saya Berharap Persoalan MSCI Bisa Menjadi Momentum Perbaikan

Di balik tekanan yang sedang terjadi, saya juga melihat kemungkinan adanya sisi positif bagi pasar saham Indonesia dalam jangka panjang.

Selama ini, pasar saham Indonesia kerap diwarnai persoalan saham gorengan, dugaan manipulasi harga, serta kekhawatiran mengenai keterbukaan informasi kepemilikan saham.

Persoalan tersebut dapat mengurangi kepercayaan investor, terutama mereka yang ingin berinvestasi berdasarkan fundamental perusahaan dan nilai wajarnya.

Menurut saya, pasar saham yang baik seharusnya memberikan kesempatan kepada investor untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi yang memadai, bukan membuat investor merasa dirugikan oleh praktik transaksi yang tidak transparan.

Karena itu, saya berharap persoalan yang disoroti MSCI bisa menjadi momentum untuk melakukan perbaikan nyata.

Beberapa hal yang menurut saya penting antara lain:

  • Meningkatkan transparansi kepemilikan saham agar struktur kepemilikan perusahaan lebih mudah dipahami.
  • Memperkuat pengawasan terhadap transaksi yang tidak wajar dan dugaan manipulasi harga.
  • Menegakkan aturan secara konsisten tanpa pandang bulu.
  • Meningkatkan kualitas keterbukaan informasi perusahaan kepada publik.
  • Memperbaiki tata kelola perusahaan agar investor memiliki dasar yang lebih kuat dalam menilai kualitas bisnis.

Tentu saja, perbaikan tersebut tidak bisa terjadi hanya melalui pengumuman atau janji. Perlu ada tindakan nyata dan konsisten dari pihak terkait, termasuk BEI, OJK, dan perusahaan yang tercatat di bursa.

Jika transparansi dan tata kelola benar-benar membaik, pasar saham Indonesia berpotensi menjadi lebih sehat dan lebih dipercaya oleh investor domestik maupun asing.

Saya tidak menganggap kejatuhan IHSG sebagai sesuatu yang harus dirayakan. Banyak investor yang sedang menghadapi kerugian, dan ketidakpastian pasar tetap membawa risiko.

Namun, saya berharap kejadian ini tidak hanya berakhir dengan pulihnya harga saham. Saya juga berharap ada perbaikan mendasar agar pasar saham Indonesia menjadi lebih transparan, lebih adil, dan lebih sehat ke depannya.

7. Apa yang Akan Saya Lakukan sebagai Investor Value Investing?

Dalam kondisi seperti sekarang, saya akan tetap berpegang pada prinsip investasi yang saya gunakan selama ini.

A. Menilai Perusahaan, Bukan Sekadar Melihat Harga Saham

Saya tidak akan menganggap seluruh saham otomatis murah hanya karena IHSG turun tajam.

Saya akan menilai perusahaan satu per satu dengan memperhatikan beberapa hal:

  • Apakah bisnisnya masih sehat?
  • Apakah perusahaan mampu menghasilkan arus kas yang nyata?
  • Apakah utangnya masih terkendali?
  • Apakah manajemen memiliki rekam jejak dan tata kelola yang baik?
  • Apakah harga sahamnya sudah menarik dibandingkan estimasi nilai wajarnya?

Untuk perusahaan yang memiliki utang dalam valuta asing, saya juga akan memperhatikan kemampuan membayar utang ketika rupiah melemah.

Bagi saya, membeli perusahaan berkualitas dengan harga yang masuk akal jauh lebih penting daripada sekadar membeli saham yang terlihat murah secara nominal.

B. Membeli Secara Bertahap

Jika saya menemukan perusahaan berkualitas yang diperdagangkan di bawah estimasi nilai wajarnya, saya akan mempertimbangkan untuk membeli secara bertahap.

Saya tidak ingin menghabiskan seluruh dana hanya karena merasa harga saham sudah turun jauh. Pasar masih bisa mengalami penurunan lanjutan, terutama ketika ketidakpastian belum terselesaikan.

Dengan membeli secara bertahap dan tetap menyimpan sebagian dana tunai, saya memiliki ruang untuk menghadapi berbagai kemungkinan.

Namun, pembelian bertahap tetap harus didasarkan pada penilaian nilai wajar dan risiko perusahaan, bukan semata-mata karena harga saham terus turun.

C. Tidak Melakukan Averaging Down Secara Otomatis

Saya tidak akan menambah kepemilikan saham hanya karena harganya lebih rendah daripada harga beli sebelumnya.

Misalnya, saya membeli sebuah saham pada harga Rp1.000, kemudian harganya turun menjadi Rp800. Penurunan tersebut tidak otomatis berarti sahamnya sudah murah.

Saya perlu mencari tahu apakah penurunan harga hanya disebabkan oleh sentimen pasar atau justru karena kondisi perusahaan memburuk.

Jika arus kas melemah, utang semakin sulit dibayar, prospek bisnis memburuk, atau tata kelola perusahaan bermasalah, saya harus mengevaluasi kembali alasan awal membeli saham tersebut.

Harga yang turun belum tentu berarti nilainya menjadi lebih murah. Bisa saja harga saham turun karena pasar sedang panik, tetapi bisa juga karena nilai intrinsik perusahaan memang menurun.

D. Memantau Perkembangan MSCI dan Kondisi Pasar

Saya juga akan mengikuti perkembangan konsultasi MSCI, langkah yang diambil BEI dan OJK, keterbukaan informasi kepemilikan saham, serta laporan keuangan perusahaan yang saya miliki.

Bagi saya, yang perlu diperhatikan bukan hanya pengumuman rencana perbaikan, melainkan apakah perubahan tersebut benar-benar dilaksanakan dan menghasilkan perbaikan yang dapat diamati.

Saya tidak ingin mengambil keputusan hanya berdasarkan harapan bahwa IHSG akan segera kembali naik. Keputusan investasi harus tetap didasarkan pada kondisi perusahaan dan harga yang saya bayarkan.

Kesimpulan: Portofolio Boleh Merah, tetapi Keputusan Harus Tetap Rasional

Kejatuhan IHSG pada 16 Oktober 2026 menjadi pengingat bahwa investasi saham selalu memiliki risiko. Harga saham bisa turun tajam, bahkan ketika kita merasa sudah memilih perusahaan yang baik.

Menurut saya, tekanan kali ini tidak hanya berkaitan dengan sentimen jual jangka pendek, tetapi juga dengan kekhawatiran terhadap transparansi, tata kelola, dan kepercayaan terhadap pasar saham Indonesia.

Sebagai investor, tentu saya juga sedih melihat portofolio memerah. Namun, saya berusaha tidak membiarkan emosi menentukan keputusan investasi.

Di satu sisi, saya berharap persoalan ini mendorong perbaikan nyata agar pasar saham Indonesia menjadi lebih transparan, adil, dan sehat. Di sisi lain, saya akan tetap mencari peluang membeli perusahaan berkualitas ketika harganya benar-benar menarik dibandingkan nilai intrinsiknya.

Saya tidak akan membeli saham hanya karena harganya turun, dan saya tidak akan melakukan averaging down secara otomatis. Saya akan tetap memperhatikan kualitas bisnis, arus kas, utang, tata kelola, nilai wajar, serta margin of safety.

Bagi saya, kesempatan investasi yang baik bukan sekadar menemukan saham yang harganya jatuh paling dalam, melainkan menemukan perusahaan yang bisnisnya tetap sehat dan harganya lebih rendah daripada nilai yang layak kita bayarkan.

Pada akhirnya, saya berharap kita tidak hanya melihat IHSG pulih, tetapi juga melihat pasar saham Indonesia menjadi lebih baik ke depannya.

Portofolio boleh merah, tetapi jangan sampai kita kehilangan rasionalitas. Ketika pasar sedang panik, tugas kita bukan menebak kapan IHSG akan kembali naik, melainkan memastikan bahwa setiap keputusan investasi tetap memiliki alasan yang kuat.

Sumber :


Tools Analisis Valuasi

Kalkulator Margin of Safety (MoS)

Hitung estimasi Nilai Intrinsik dan Harga Beli Target berdasarkan pertumbuhan proyeksi laba per saham (EPS) serta Margin of Safety yang Anda kehendaki.

Rp
Rp

Ringkasan Hasil Analisis

EPS Proyeksi: -
Nilai Intrinsik: -
Harga Beli Target (Berdasarkan Target MoS): -
Margin of Safety Saat Ini: -
Kesimpulan Signal Valuasi:
-
Disclaimer Edukasi: Kalkulator ini hanya untuk tujuan simulasi & edukasi, bukan rekomendasi jual/beli saham. Keputusan investasi ada sepenuhnya di tangan masing-masing investor.