![]() |
IHSG anjlok, saham-saham kebakaran, dan portofolio ikut merah menyala.
Jujur, di satu
sisi saya juga sedih melihat portofolio ikut memerah. Rasanya tentu tidak
menyenangkan melihat nilai investasi turun tajam dalam waktu singkat. Apalagi
jika saham yang kita miliki sebelumnya dibeli dengan harapan bisa memberikan
keuntungan dalam jangka panjang.
Namun, di sisi
lain, saya juga melihat adanya peluang. Sebagai investor value investing,
penurunan harga saham bisa menjadi kesempatan untuk membeli perusahaan
berkualitas dengan harga yang lebih murah daripada nilai wajarnya.
Tentu saja, tidak
semua saham yang turun otomatis menjadi murah. Ada saham yang turun karena
sentimen pasar, tetapi ada juga yang turun karena kondisi bisnisnya memang
memburuk. Karena itu, saya tetap harus selektif.
Lalu, apa
sebenarnya yang terjadi dengan IHSG? Mengapa pasar saham Indonesia mengalami
tekanan begitu besar, dan bagaimana saya menyikapinya sebagai investor?
Mari kita bahas.
1. IHSG Anjlok, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Pada Jumat, 16
Oktober 2026, IHSG dibuka anjlok 8,01% ke level 5.393,92. Akibat penurunan
tajam tersebut, perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dihentikan sementara
selama 30 menit sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam
perkembangan perdagangan berikutnya, Kontan melaporkan penurunan sekitar
11,57%.
Jadi, angka 8,01%
merupakan penurunan saat pembukaan perdagangan, sedangkan angka 11,57%
menggambarkan penurunan yang dilaporkan pada waktu perdagangan berikutnya.
Kejadian ini
tentu membuat banyak investor khawatir. Tidak sedikit yang mungkin
bertanya-tanya apakah ini saatnya menjual saham, bertahan, atau justru mulai
mencari peluang membeli.
Menurut saya,
sebelum mengambil keputusan, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang
memicu kejatuhan pasar kali ini.
2. Pengumuman MSCI Menjadi Salah Satu Pemicu Tekanan Pasar
Salah satu pemicu
langsung tekanan pasar adalah pengumuman MSCI yang membuka konsultasi mengenai
kemungkinan menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging
Market menjadi Standalone Market.
Perlu dipahami bahwa keputusan final belum dibuat. MSCI dijadwalkan menerima masukan hingga
30 April 2027 dan mengumumkan keputusan paling lambat 30 Juni 2027.
Mengapa
kemungkinan perubahan status tersebut membuat pasar khawatir?
Banyak pengelola
dana investasi global menggunakan indeks MSCI sebagai acuan dalam menentukan
alokasi investasi. Jika klasifikasi pasar Indonesia berubah, ada kekhawatiran
sebagian dana investasi akan mengurangi eksposurnya terhadap saham-saham
Indonesia.
Namun, menurut
saya, persoalan ini bukan hanya tentang kemungkinan keluarnya dana asing dari
pasar saham Indonesia.
Ada persoalan
yang lebih mendasar, yaitu kepercayaan terhadap transparansi dan tata kelola
pasar.
MSCI menyoroti
sejumlah persoalan, termasuk transparansi kepemilikan saham, dugaan transaksi
yang terkoordinasi, serta belum terlihatnya bukti perbaikan tata kelola dan
penegakan aturan secara konsisten.
Bagi saya,
hal-hal seperti ini memang penting untuk diperhatikan. Pasar saham yang sehat
bukan hanya pasar yang harga sahamnya terus naik, melainkan pasar yang memiliki
keterbukaan informasi, aturan yang jelas, dan pengawasan yang berjalan dengan
baik.
Jika kepercayaan
investor menurun, dampaknya bisa meluas dan tidak hanya dirasakan dalam satu
atau dua hari perdagangan.
3. Apakah Kejatuhan IHSG Hanya Disebabkan oleh MSCI?
Menurut saya,
tidak sesederhana itu.
Tekanan terhadap
pasar saham Indonesia sebenarnya sudah terasa sebelumnya. Pada akhir Januari
2026, IHSG juga sempat mengalami tekanan setelah MSCI membekukan sejumlah
perubahan indeks saham Indonesia.
Pada pembukaan
perdagangan 16 Oktober 2026, IHSG tercatat telah turun sekitar 41% dari rekor
tertingginya pada Januari.
Hal ini
menunjukkan bahwa tekanan pasar sudah berlangsung sebelum pengumuman MSCI
terbaru.
Dengan demikian,
pengumuman tersebut lebih tepat dipandang sebagai salah satu faktor yang
memperburuk kekhawatiran investor, bukan satu-satunya penyebab kejatuhan IHSG.
Menurut saya,
kita perlu membedakan antara kepanikan pasar dalam jangka pendek dan persoalan
mendasar yang memang bisa memengaruhi nilai investasi dalam jangka panjang.
Penurunan harga
saham memang bisa terjadi karena kepanikan. Namun, jika penyebabnya berkaitan
dengan kualitas tata kelola, transparansi, atau fundamental perusahaan,
persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya dengan menunggu sentimen
pasar membaik.
4. Kejatuhan Besar IHSG yang Pernah Terjadi
Kejatuhan pasar
saham bukanlah hal baru. Dalam sejarahnya, IHSG pernah mengalami penurunan
besar akibat krisis ekonomi, masalah keuangan global, dan kepanikan investor.
Berikut beberapa episode penting yang bisa menjadi bahan pembelajaran.
![]() |
| Histori Kejatuhan IHSG |
Catatan: Angka pada periode 1997–1998, 2008, dan 2020 menggambarkan penurunan selama periode krisis. Sementara itu, angka 2026 menggambarkan pergerakan dalam satu hari perdagangan. Karena rentang pengukurannya berbeda, angka-angka tersebut tidak bisa dibandingkan secara langsung.
Daftar ini juga
hanya mencakup beberapa episode besar, bukan seluruh periode ketika IHSG pernah
mengalami koreksi.
Dari sejarah
tersebut, kita bisa belajar bahwa pasar saham dapat mengalami penurunan yang
sangat dalam. Namun, setiap krisis memiliki penyebab dan karakteristik yang
berbeda. Karena itu, kita tidak bisa memastikan bahwa kejatuhan kali ini akan
berakhir dengan pola yang sama seperti krisis sebelumnya.
5. Di Balik Portofolio Merah, Saya Juga Melihat Peluang
Jujur saja,
melihat portofolio merah menyala tentu bukan pengalaman yang menyenangkan.
Sebagai investor,
saya juga merasakan dampak penurunan harga saham. Nilai portofolio yang
sebelumnya terlihat baik bisa berkurang cukup besar ketika pasar mengalami
tekanan.
Namun, saya
mencoba melihat situasi ini dari dua sisi.
Di satu sisi, ada
risiko kerugian dan ketidakpastian yang harus dihadapi. Di sisi lain, ada
kemungkinan munculnya peluang untuk membeli saham dengan harga yang lebih
menarik.
Inilah salah satu
hal yang membuat saya tertarik dengan pendekatan value investing.
Bagi saya, harga
saham dan nilai sebuah perusahaan tidak selalu bergerak sejalan dalam jangka
pendek. Ketika pasar panik, harga saham perusahaan yang masih memiliki bisnis
sehat pun bisa ikut turun.
Jika harga saham
turun lebih dalam daripada penurunan nilai intrinsiknya, peluang investasi
mungkin muncul.
Tetapi, saya
tidak ingin langsung menyimpulkan bahwa semua saham yang anjlok sekarang sudah
murah. Saya tetap perlu memeriksa kondisi bisnis, kemampuan menghasilkan
keuntungan, arus kas, utang, dan tata kelola masing-masing perusahaan.
Saham yang
turun 30% belum tentu lebih murah daripada saham yang hanya turun 10%. Semuanya bergantung pada harga awal,
nilai wajarnya, serta perubahan kondisi bisnis perusahaan.
Karena itu, bagi
saya, penurunan IHSG bukan alasan untuk langsung membeli semua saham yang
harganya jatuh. Ini justru saatnya lebih teliti memilih perusahaan.
6. Saya Berharap Persoalan MSCI Bisa Menjadi Momentum Perbaikan
Di balik tekanan
yang sedang terjadi, saya juga melihat kemungkinan adanya sisi positif bagi
pasar saham Indonesia dalam jangka panjang.
Selama ini, pasar
saham Indonesia kerap diwarnai persoalan saham gorengan, dugaan manipulasi
harga, serta kekhawatiran mengenai keterbukaan informasi kepemilikan saham.
Persoalan
tersebut dapat mengurangi kepercayaan investor, terutama mereka yang ingin
berinvestasi berdasarkan fundamental perusahaan dan nilai wajarnya.
Menurut saya,
pasar saham yang baik seharusnya memberikan kesempatan kepada investor untuk
mengambil keputusan berdasarkan informasi yang memadai, bukan membuat investor
merasa dirugikan oleh praktik transaksi yang tidak transparan.
Karena itu, saya
berharap persoalan yang disoroti MSCI bisa menjadi momentum untuk melakukan
perbaikan nyata.
Beberapa hal yang
menurut saya penting antara lain:
- Meningkatkan transparansi kepemilikan
saham agar struktur kepemilikan perusahaan lebih mudah dipahami.
- Memperkuat pengawasan terhadap
transaksi yang tidak wajar dan dugaan manipulasi harga.
- Menegakkan aturan secara konsisten
tanpa pandang bulu.
- Meningkatkan kualitas keterbukaan
informasi perusahaan kepada publik.
- Memperbaiki tata kelola perusahaan
agar investor memiliki dasar yang lebih kuat dalam menilai kualitas
bisnis.
Tentu saja,
perbaikan tersebut tidak bisa terjadi hanya melalui pengumuman atau janji.
Perlu ada tindakan nyata dan konsisten dari pihak terkait, termasuk BEI, OJK,
dan perusahaan yang tercatat di bursa.
Jika transparansi
dan tata kelola benar-benar membaik, pasar saham Indonesia berpotensi menjadi
lebih sehat dan lebih dipercaya oleh investor domestik maupun asing.
Saya tidak
menganggap kejatuhan IHSG sebagai sesuatu yang harus dirayakan. Banyak investor
yang sedang menghadapi kerugian, dan ketidakpastian pasar tetap membawa risiko.
Namun, saya
berharap kejadian ini tidak hanya berakhir dengan pulihnya harga saham. Saya
juga berharap ada perbaikan mendasar agar pasar saham Indonesia menjadi lebih
transparan, lebih adil, dan lebih sehat ke depannya.
7. Apa yang Akan Saya Lakukan sebagai Investor Value Investing?
Dalam kondisi
seperti sekarang, saya akan tetap berpegang pada prinsip investasi yang saya
gunakan selama ini.
A. Menilai
Perusahaan, Bukan Sekadar Melihat Harga Saham
Saya tidak akan
menganggap seluruh saham otomatis murah hanya karena IHSG turun tajam.
Saya akan menilai
perusahaan satu per satu dengan memperhatikan beberapa hal:
- Apakah
bisnisnya masih sehat?
- Apakah perusahaan mampu menghasilkan
arus kas yang nyata?
- Apakah
utangnya masih terkendali?
- Apakah manajemen memiliki rekam jejak
dan tata kelola yang baik?
- Apakah harga sahamnya sudah menarik
dibandingkan estimasi nilai wajarnya?
Untuk perusahaan
yang memiliki utang dalam valuta asing, saya juga akan memperhatikan kemampuan
membayar utang ketika rupiah melemah.
Bagi saya,
membeli perusahaan berkualitas dengan harga yang masuk akal jauh lebih penting
daripada sekadar membeli saham yang terlihat murah secara nominal.
B. Membeli
Secara Bertahap
Jika saya
menemukan perusahaan berkualitas yang diperdagangkan di bawah estimasi nilai
wajarnya, saya akan mempertimbangkan untuk membeli secara bertahap.
Saya tidak ingin
menghabiskan seluruh dana hanya karena merasa harga saham sudah turun jauh.
Pasar masih bisa mengalami penurunan lanjutan, terutama ketika ketidakpastian
belum terselesaikan.
Dengan membeli
secara bertahap dan tetap menyimpan sebagian dana tunai, saya memiliki ruang
untuk menghadapi berbagai kemungkinan.
Namun, pembelian
bertahap tetap harus didasarkan pada penilaian nilai wajar dan risiko
perusahaan, bukan semata-mata karena harga saham terus turun.
C. Tidak
Melakukan Averaging Down Secara Otomatis
Saya tidak akan
menambah kepemilikan saham hanya karena harganya lebih rendah daripada harga
beli sebelumnya.
Misalnya, saya
membeli sebuah saham pada harga Rp1.000, kemudian harganya turun menjadi Rp800.
Penurunan tersebut tidak otomatis berarti sahamnya sudah murah.
Saya perlu
mencari tahu apakah penurunan harga hanya disebabkan oleh sentimen pasar atau
justru karena kondisi perusahaan memburuk.
Jika arus kas
melemah, utang semakin sulit dibayar, prospek bisnis memburuk, atau tata kelola
perusahaan bermasalah, saya harus mengevaluasi kembali alasan awal membeli
saham tersebut.
Harga yang
turun belum tentu berarti nilainya menjadi lebih murah. Bisa saja harga saham turun karena pasar
sedang panik, tetapi bisa juga karena nilai intrinsik perusahaan memang
menurun.
D. Memantau
Perkembangan MSCI dan Kondisi Pasar
Saya juga akan
mengikuti perkembangan konsultasi MSCI, langkah yang diambil BEI dan OJK,
keterbukaan informasi kepemilikan saham, serta laporan keuangan perusahaan yang
saya miliki.
Bagi saya, yang
perlu diperhatikan bukan hanya pengumuman rencana perbaikan, melainkan apakah
perubahan tersebut benar-benar dilaksanakan dan menghasilkan perbaikan yang
dapat diamati.
Saya tidak ingin
mengambil keputusan hanya berdasarkan harapan bahwa IHSG akan segera kembali
naik. Keputusan investasi harus tetap didasarkan pada kondisi perusahaan dan
harga yang saya bayarkan.
Kesimpulan:
Portofolio Boleh Merah, tetapi Keputusan Harus Tetap Rasional
Kejatuhan IHSG
pada 16 Oktober 2026 menjadi pengingat bahwa investasi saham selalu memiliki
risiko. Harga saham bisa turun tajam, bahkan ketika kita merasa sudah memilih
perusahaan yang baik.
Menurut saya,
tekanan kali ini tidak hanya berkaitan dengan sentimen jual jangka pendek,
tetapi juga dengan kekhawatiran terhadap transparansi, tata kelola, dan
kepercayaan terhadap pasar saham Indonesia.
Sebagai investor,
tentu saya juga sedih melihat portofolio memerah. Namun, saya berusaha tidak
membiarkan emosi menentukan keputusan investasi.
Di satu sisi,
saya berharap persoalan ini mendorong perbaikan nyata agar pasar saham
Indonesia menjadi lebih transparan, adil, dan sehat. Di sisi lain, saya akan
tetap mencari peluang membeli perusahaan berkualitas ketika harganya
benar-benar menarik dibandingkan nilai intrinsiknya.
Saya tidak akan
membeli saham hanya karena harganya turun, dan saya tidak akan melakukan averaging
down secara otomatis. Saya akan tetap memperhatikan kualitas bisnis, arus
kas, utang, tata kelola, nilai wajar, serta margin of safety.
Bagi saya,
kesempatan investasi yang baik bukan sekadar menemukan saham yang harganya
jatuh paling dalam, melainkan menemukan perusahaan yang bisnisnya tetap sehat
dan harganya lebih rendah daripada nilai yang layak kita bayarkan.
Pada akhirnya,
saya berharap kita tidak hanya melihat IHSG pulih, tetapi juga melihat pasar
saham Indonesia menjadi lebih baik ke depannya.
Portofolio
boleh merah, tetapi jangan sampai kita kehilangan rasionalitas. Ketika pasar
sedang panik, tugas kita bukan menebak kapan IHSG akan kembali naik, melainkan
memastikan bahwa setiap keputusan investasi tetap memiliki alasan yang kuat.
Sumber :
- Kontan, IHSG Dibuka Anjlok 8,1% ke 5.393 pada Jumat (16/10 ) Pagi, Langsung Kena Trading Halt, 16 Oktober 2026
- Investing.com Indonesia, IHSG Anjlok 8% dan Kena Trading Halt, MSCI Usulkan RI Turun ke Standalone Market, 16 Oktober 2026
- FEB Universitas Indonesia, Budi Frensidy: Mengenang Tiga Krisis Terakhir, 6 Januari 2022

