
Tanggal analisis: 19 Oktober 2026
Ketika mencari saham untuk investasi jangka panjang, saya tidak hanya melihat apakah harga sahamnya murah. Saya juga ingin mengetahui apakah perusahaan tersebut memiliki bisnis yang bagus, mampu menghasilkan laba secara konsisten, memiliki utang yang terkendali, dan menghasilkan arus kas yang sehat.
Kali ini, saya mencoba membandingkan dua perusahaan di sektor komponen otomotif, yaitu PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) dan PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM).
Keduanya sama-sama bergerak di industri komponen kendaraan, tetapi memiliki karakteristik bisnis dan kinerja keuangan yang berbeda.
Dalam analisis ini, saya menggunakan harga penutupan saham pada 19 Oktober 2026, data perbandingan dari Stockbit, laporan keuangan semester I 2026, serta laporan tahunan 2025. Saya juga melihat data industri otomotif Indonesia dari AISI dan GAIKINDO untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi pasar.
Lantas, mana yang lebih menarik untuk investor value investing? Apakah DRMA yang valuasinya lebih murah, atau SMSM yang memiliki tingkat keuntungan dan kondisi keuangan lebih kuat?
Mari kita bahas satu per satu.
![]() |
1. Harga Saham dan Valuasi: DRMA Lebih Murah?
Pada penutupan 19 Oktober 2026, harga saham SMSM berada di Rp1.455 per saham, sedangkan DRMA berada di Rp845 per saham.
Berdasarkan data perbandingan Stockbit yang saya gunakan, berikut gambaran valuasi kedua saham tersebut.
![]() |
Dari tabel tersebut, DRMA terlihat lebih murah berdasarkan hampir semua rasio valuasi yang ditampilkan.
P/E DRMA hanya 5,72 kali, sedangkan SMSM 7,32 kali. Artinya, berdasarkan laba 12 bulan terakhir, harga saham DRMA relatif lebih rendah dibandingkan laba yang dihasilkan perusahaan.
Begitu juga dengan rasio P/S. DRMA hanya berada di angka 0,63 kali, sementara SMSM mencapai 1,54 kali. Secara sederhana, pasar memberikan nilai yang lebih rendah terhadap setiap rupiah penjualan DRMA.
Namun, apakah saham dengan rasio lebih rendah otomatis lebih murah dan lebih menarik untuk dibeli?
Menurut saya, belum tentu.
Harga murah harus dilihat bersama kualitas bisnisnya. Perusahaan yang menghasilkan keuntungan besar dari penjualannya tentu berbeda dengan perusahaan yang harus menjual lebih banyak produk untuk mendapatkan laba yang sama.
Karena itu, saya tidak ingin langsung menyimpulkan DRMA lebih menarik hanya karena rasio valuasinya lebih rendah. Kita perlu melihat kemampuan kedua perusahaan dalam menghasilkan laba, menjaga keuangan, dan menghadapi kondisi bisnis yang kurang baik.
2. Fundamental dan Profitabilitas: Siapa yang Lebih Jago Menghasilkan Laba?
Saya menggunakan laporan keuangan semester I 2026 dan membandingkannya dengan periode yang sama pada 2025.
Berikut hasil perbandingannya.
![]() |
Dari sisi pertumbuhan, DRMA tampil lebih baik. Penjualannya meningkat 13,8%, sedangkan laba bersihnya tumbuh 17,5% dibandingkan semester I 2025.
SMSM tumbuh lebih lambat. Penjualannya naik 3,7% dan laba bersihnya meningkat 4,9%.
Jika hanya melihat pertumbuhan, DRMA memang terlihat lebih menarik. Akan tetapi, ada hal lain yang menurut saya justru lebih penting, yaitu seberapa besar laba yang bisa dihasilkan dari penjualannya.
SMSM menghasilkan laba lebih besar dari penjualan yang sama
Mari kita sederhanakan dengan contoh.
Bayangkan SMSM dan DRMA sama-sama memperoleh penjualan sebesar Rp100.
Dengan margin bersih 22,7%, SMSM mampu menghasilkan laba sekitar Rp22,70.
Sementara itu, dengan margin bersih 9,1%, DRMA hanya menghasilkan laba sekitar Rp9,10.
Artinya, dari setiap Rp100 penjualan, SMSM menghasilkan laba bersih sekitar dua setengah kali lebih besar daripada DRMA.
Margin yang lebih tinggi memberikan keuntungan bagi perusahaan. Ketika harga bahan baku naik, biaya produksi meningkat, atau permintaan melemah, perusahaan dengan margin tebal biasanya memiliki ruang yang lebih besar untuk menahan tekanan tersebut.
Bukan berarti SMSM bebas dari risiko, tetapi kondisi ini memberikan bantalan yang lebih kuat dibandingkan perusahaan dengan margin lebih tipis.
Penjualan DRMA lebih besar, tetapi labanya lebih kecil
Data 12 bulan terakhir atau TTM (trailing twelve months) pada snapshot Stockbit juga menunjukkan perbedaan yang menarik.
Dapat kita lihat pada Tabel diatas bagian Income Statement:
Penjualan SMSM Rp5,432 triliun sedangkan DRMA Rp6,323 Triliun.
Laba bersih SMSM Rp1,145 triliun sedangkan DRMA Rp695 miliar.
Dari tabel tersebut memperlihatkan bahwa DRMA mencatat penjualan lebih besar daripada SMSM. Namun, laba bersih SMSM justru jauh lebih tinggi.
Menurut saya, ini menjadi salah satu alasan mengapa kita tidak boleh hanya menggunakan rasio harga terhadap penjualan untuk menentukan saham mana yang lebih murah. Penjualan yang besar memang bagus, tetapi penjualan harus bisa menghasilkan keuntungan yang memadai.
Snapshot Stockbit juga menunjukkan margin kuartalan SMSM masih lebih tinggi. Margin kotor tercatat 36,24%, margin usaha 27,94%, dan margin bersih 21,35%.
Sementara itu, DRMA mencatat margin kotor sekitar 16,41%, margin usaha 11,22%, dan margin bersih 8,58%.
Dengan demikian, keunggulan SMSM dalam menghasilkan laba tidak hanya terlihat dari laporan semester I 2026, tetapi juga tercermin dalam data kuartalan pada snapshot yang digunakan.
Kesimpulan sementara: DRMA lebih unggul dalam pertumbuhan, sedangkan SMSM lebih unggul dalam kemampuan menghasilkan laba.
3. Kondisi Keuangan: Siapa yang Lebih Siap Menghadapi Masa Sulit?
Perusahaan yang bagus bukan hanya perusahaan yang mampu mencetak laba. Saya juga ingin melihat apakah perusahaan memiliki cukup kas untuk membayar kewajiban, membiayai kegiatan usaha, dan bertahan ketika kondisi pasar sedang tidak menguntungkan.
Berikut perbandingan kondisi keuangan keduanya berdasarkan data yang saya peroleh.
![]() |
Secara umum, SMSM memiliki posisi keuangan yang lebih kuat dibandingkan DRMA.
Kas SMSM mencapai Rp1,239 triliun, sedangkan DRMA memiliki kas Rp539 miliar. Jika dibandingkan dengan utang jangka pendek dan jangka panjang yang tercantum dalam tabel, SMSM memiliki kelebihan kas sekitar Rp1,098 triliun. Sementara itu, DRMA memiliki kelebihan kas sekitar Rp177 miliar.
Perhitungan sederhana tersebut belum memperhitungkan seluruh kewajiban lain, termasuk liabilitas sewa. Jadi, angka ini bukan gambaran lengkap dari seluruh posisi kewajiban perusahaan.
Meski demikian, perbedaannya cukup jelas. SMSM mempunyai ruang keuangan yang lebih besar untuk menghadapi pelemahan bisnis, membayar dividen, atau membiayai investasi tanpa terlalu bergantung pada pinjaman.
Apa arti current ratio dan quick ratio?
Bagi investor pemula, kedua rasio ini sebenarnya cukup mudah dipahami.
Current ratio membandingkan aset lancar dengan kewajiban jangka pendek. Sementara itu, quick ratio mengukur kemampuan membayar kewajiban jangka pendek dengan aset lancar yang lebih mudah dicairkan, tanpa mengandalkan persediaan.
Dalam data current ratio SMSM mencapai 4,39 kali, sedangkan DRMA 1,84 kali.
Artinya, secara perhitungan, SMSM mempunyai aset lancar sekitar Rp4,39 untuk setiap Rp1 kewajiban jangka pendek. Pada DRMA, jumlahnya sekitar Rp1,84.
Angka yang lebih tinggi dapat memberikan ruang keuangan lebih besar. Namun, tetap perlu diperhatikan komposisi aset lancarnya, sebab kas, piutang, dan persediaan memiliki tingkat kemudahan pencairan yang berbeda.
Bagaimana dengan kemampuan membayar bunga?
Interest coverage menunjukkan kemampuan laba operasional untuk menutup beban bunga.
SMSM memiliki rasio 109,55 kali, sedangkan DRMA 34,04 kali.
Keduanya menunjukkan kemampuan menutup beban bunga yang kuat berdasarkan data tersebut. Namun, SMSM mempunyai bantalan yang lebih besar jika suatu saat laba operasional menurun.
Arus kas juga penting
Saya tidak hanya melihat laba bersih, tetapi juga memperhatikan arus kas.
Laba bersih menunjukkan keuntungan berdasarkan laporan akuntansi, sedangkan arus kas menunjukkan pergerakan uang yang benar-benar masuk dan keluar dari perusahaan.
SMSM menghasilkan arus kas operasi TTM sebesar Rp1,078 triliun dan free cash flow (FCF) Rp856 miliar.
DRMA menghasilkan arus kas operasi TTM sebesar Rp878 miliar dan FCF Rp562 miliar.
Dalam hal ini, SMSM kembali unggul karena mampu menghasilkan arus kas bebas yang lebih besar.
Catatan khusus dari kedua perusahaan
Meskipun posisi keuangan SMSM lebih kuat, ada satu hal yang tetap ingin saya pantau, yaitu perputaran modal kerjanya.
![]() |
Snapshot Stockbit menunjukkan persediaan SMSM sekitar 152 hari, piutang sekitar 73 hari, dan siklus konversi kas sekitar 187 hari.
Pada DRMA, angkanya lebih singkat, masing-masing sekitar 41 hari, 43 hari, dan 38 hari.
Perputaran yang lebih panjang pada SMSM perlu diperhatikan karena uang perusahaan bisa lebih lama tertahan dalam persediaan dan piutang sebelum kembali menjadi kas. Namun, angka tersebut juga harus dilihat sesuai karakteristik bisnis masing-masing perusahaan dan dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Untuk DRMA, arus kas operasi pada semester I 2026 tercatat sekitar Rp308 miliar, turun dari Rp355 miliar pada semester I 2025.
Pada periode tersebut, DRMA mengeluarkan sekitar Rp88 miliar untuk pembelian aset tetap dan sekitar Rp34 miliar sebagai uang muka aset tetap.
Menurut saya, kondisi ini belum dengan sendirinya menunjukkan masalah solvabilitas. Namun, saya ingin melihat apakah pertumbuhan laba DRMA ke depan dapat terus diikuti oleh pertumbuhan arus kas dan apakah kas yang dihasilkan cukup untuk mendukung rencana ekspansinya.
Kesimpulan sementara: SMSM lebih unggul dari sisi likuiditas, posisi kas, dan kemampuan menghasilkan arus kas bebas. DRMA juga masih menghasilkan arus kas positif, tetapi bantalan keuangannya lebih kecil.
4. Prospek Bisnis DRMA dan SMSM
Setelah melihat laporan keuangan, saya juga ingin memahami bagaimana kedua perusahaan menghasilkan uang dan faktor apa saja yang dapat memengaruhi pertumbuhannya.
DRMA: Berpeluang tumbuh lebih cepat, tetapi sensitif terhadap siklus otomotif
DRMA bergerak di bidang komponen otomotif, termasuk komponen sepeda motor, kendaraan roda empat, produk logam dan fabrikasi, serta suku cadang kendaraan.
Pertumbuhan penjualan dan laba pada semester I 2026 memberikan sinyal positif. Jika produksi kendaraan meningkat dan permintaan dari produsen otomotif menguat, DRMA berpeluang memperoleh manfaat dari kenaikan volume pesanan.
Namun, ada risiko yang perlu diperhatikan.
Sebagian bisnis komponen otomotif berkaitan erat dengan produksi kendaraan baru oleh produsen atau original equipment manufacturer (OEM). Jika produksi kendaraan melemah, permintaan komponen dari pabrikan juga dapat ikut turun.
Selain itu, margin DRMA yang lebih tipis membuat perusahaan perlu menjaga efisiensi biaya dan mempertahankan volume penjualan agar profitabilitasnya tetap sehat.
Saya juga mencatat bahwa laporan tahunan DRMA 2025 menunjukkan piutang kepada PT Astra Honda Motor sekitar Rp350 miliar dari total piutang usaha sekitar Rp753 miliar.
Angka tersebut merupakan data piutang, bukan berarti persentase penjualan DRMA kepada pelanggan tersebut pasti sama. Meski begitu, informasi ini menjadi salah satu alasan bagi saya untuk memperhatikan konsentrasi pelanggan, kualitas piutang, dan ketepatan pembayaran dari pelanggan utama.
Bagi saya, DRMA menarik untuk dipantau apabila pertumbuhan bisnisnya dapat dipertahankan, margin labanya membaik, dan arus kasnya semakin kuat.
SMSM: Profitabilitas kuat dengan pasar yang lebih beragam
SMSM memproduksi filter dan radiator. Melalui anak usahanya, perusahaan juga bergerak di bidang produksi filter, karoseri, dan distribusi pasar purnajual atau aftermarket.
Pasar aftermarket adalah pasar suku cadang dan komponen untuk kendaraan yang sudah digunakan, misalnya untuk kebutuhan perawatan dan penggantian komponen.
Menurut saya, perpaduan pasar OEM, aftermarket, dan penjualan lintas negara memberikan SMSM beberapa sumber permintaan. Perusahaan tidak hanya bergantung pada penjualan komponen untuk kendaraan baru.
Laporan tahunan 2025 juga menekankan produktivitas, pengendalian biaya, kualitas produk, dan diversifikasi pasar.
Pertumbuhan SMSM pada semester I 2026 memang lebih lambat dibandingkan DRMA. Namun, perusahaan mampu mempertahankan margin keuntungan yang lebih tinggi dan menghasilkan arus kas yang lebih besar.
Bagi investor yang mengutamakan kualitas bisnis, kestabilan keuangan, dan kemampuan menghasilkan kas, karakteristik tersebut layak menjadi pertimbangan.
Meski begitu, diversifikasi pasar bukan jaminan bahwa SMSM akan selalu tumbuh atau kebal terhadap penurunan permintaan.
5. Bagaimana Kondisi Industri Otomotif Indonesia?
Untuk menilai prospek DRMA dan SMSM, saya juga melihat perkembangan pasar otomotif Indonesia.
Berdasarkan data resmi AISI yang digunakan dalam analisis ini, penjualan sepeda motor domestik Januari–September 2026 mencapai 5.016.421 unit. Angka tersebut meningkat sekitar 3,7% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Pertumbuhan ini menjadi sinyal positif bagi industri sepeda motor dan rantai pasok komponennya.
Namun, kenaikan penjualan sepeda motor nasional tidak otomatis berarti penjualan DRMA akan tumbuh dengan persentase yang sama. Kinerja setiap perusahaan tetap dipengaruhi oleh jenis produk, komposisi pelanggan, pangsa pasar, ekspor, dan kandungan komponen yang dipasok.
Sementara itu, GAIKINDO mencatat penjualan mobil secara wholesales pada Agustus 2026 sebesar 81.756 unit, naik 0,79% dibandingkan Juli. Penjualan ritel pada bulan yang sama mencapai 83.422 unit, meningkat 7,7% dibandingkan bulan sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan adanya perbaikan bulanan. Akan tetapi, menurut saya, satu bulan kenaikan belum cukup untuk memastikan bahwa pemulihan pasar mobil akan berlangsung secara berkelanjutan.
Bagi DRMA, perkembangan produksi kendaraan roda dua dan roda empat menjadi hal penting untuk dipantau karena permintaan komponen OEM berkaitan dengan volume produksi kendaraan.
Untuk SMSM, perkembangan pasar otomotif tetap relevan, tetapi bisnis aftermarket dan pasar ekspornya juga perlu diperhatikan.
6. Risiko yang Perlu Diperhatikan Investor
Menurut saya, ada beberapa risiko penting yang harus dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan investasi pada DRMA maupun SMSM.
1. Siklus industri otomotif
DRMA cukup sensitif terhadap perubahan volume produksi kendaraan. Jika permintaan kendaraan melemah dan pabrikan mengurangi produksi, permintaan komponen dapat ikut tertekan.
2. Tekanan terhadap margin keuntungan
Margin DRMA jauh lebih tipis daripada SMSM. Kenaikan harga bahan baku, biaya tenaga kerja, atau tekanan harga dari pelanggan dapat berdampak cukup besar terhadap laba DRMA.
3. Perputaran modal kerja SMSM
Persediaan dan siklus konversi kas SMSM relatif panjang berdasarkan snapshot yang digunakan. Investor perlu memantau apakah persediaan terjual dengan baik, piutang tertagih tepat waktu, dan laba dapat terus dikonversi menjadi kas.
4. Nilai tukar dan pasar ekspor
Eksposur internasional membuat perubahan nilai tukar dan kondisi perdagangan global relevan bagi SMSM. Perubahan kebijakan perdagangan, biaya logistik, atau permintaan dari pasar luar negeri dapat memengaruhi kinerja perusahaan.
7. Kesimpulan: Saya Lebih Memilih SMSM atau DRMA?
Setelah membandingkan valuasi, profitabilitas, neraca, arus kas, dan prospek bisnisnya, saya melihat bahwa DRMA dan SMSM memiliki kelebihan masing-masing.
DRMA unggul dalam pertumbuhan terbaru. Penjualan semester I 2026 meningkat 13,8% dan laba bersih tumbuh 17,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi valuasi, DRMA juga terlihat lebih murah. P/E TTM-nya sebesar 5,72 kali, sedangkan SMSM 7,32 kali. Rasio PBV dan EV/EBITDA DRMA juga lebih rendah berdasarkan data yang digunakan.
Namun, DRMA memiliki margin keuntungan yang lebih tipis, kas bersih yang lebih kecil, dan risiko yang berkaitan dengan siklus produksi otomotif. Menurut saya, hal-hal tersebut perlu diperhitungkan sebelum menyimpulkan bahwa DRMA benar-benar lebih murah secara nilai wajar.
Di sisi lain, SMSM memiliki margin keuntungan yang lebih tinggi, likuiditas lebih kuat, posisi kas yang lebih besar, serta kemampuan menghasilkan arus kas bebas yang lebih tinggi.
Pertumbuhannya memang lebih lambat, tetapi kualitas profitabilitas dan kondisi keuangannya memberikan alasan bagi saya untuk menilai SMSM lebih unggul dari sisi ketahanan bisnis.
Jika harus memilih berdasarkan data yang saya gunakan, saya lebih condong ke SMSM.
Alasannya bukan karena SMSM pasti memberikan keuntungan lebih besar, melainkan karena saya lebih menyukai bisnis yang mampu menghasilkan laba dan kas secara kuat, memiliki kondisi keuangan sehat, serta mempunyai bantalan lebih besar ketika kondisi usaha memburuk.
Dengan valuasi P/E TTM sekitar 7,32 kali, SMSM tetap menarik untuk saya pelajari lebih lanjut. Namun, saya tidak akan langsung menganggap harga tersebut sebagai harga murah yang pasti berada di bawah nilai wajarnya.
Sementara itu, DRMA tetap layak masuk daftar pantauan bagi investor yang mencari valuasi lebih rendah dan mengharapkan pertumbuhan lebih cepat. Saya akan lebih tertarik apabila pertumbuhannya dapat dipertahankan, margin keuntungan membaik, dan arus kas semakin kuat.
Pada akhirnya, pilihan antara DRMA dan SMSM bergantung pada harga beli, perkiraan pertumbuhan laba, risiko yang bersedia diterima, dan tingkat keuntungan yang diharapkan investor.
Saya juga belum menetapkan target harga hanya berdasarkan P/E saat ini. Untuk memperkirakan nilai wajar, saya perlu menilai potensi laba normal sepanjang siklus bisnis, prospek pertumbuhan, kebutuhan belanja modal, serta tingkat pengembalian minimum yang saya harapkan.
Bagi saya, prinsip value investing bukan sekadar membeli saham dengan rasio paling rendah. Yang lebih penting adalah membeli bisnis yang layak dengan harga yang masuk akal, disertai margin of safety atau jarak pengaman antara harga beli dan estimasi nilai wajarnya.




