![]() |
| Ilustrasi fasilitas dan jaringan pipa gas alam |
Ekspor Gas Dipangkas, Apa Dampaknya ke Saham MEDC dan PGAS?
Indonesia mulai memangkas ekspor gas pipa ke Singapura. Berita ini langsung bikin investor bertanya-tanya soal saham gas di IDX. Apakah laba emiten gas kita akan ikut turun? Dan siapa yang paling kena? Okay, kita bahas satu per satu.
Kesimpulan saya dulu: ini memang kabar kurang baik untuk kepastian ekspor gas kita, tetapi belum cukup untuk mengatakan laba emiten gas Indonesia akan turun besar.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Pemotongan aktualnya sebesar 31 juta kaki kubik per hari (MMSCFD), atau sekitar 9% dari ekspor gas pipa Indonesia ke Singapura. Pemerintah menyebut gas itu dialihkan untuk pembangkit listrik di Batam, Bintan, dan Sumatra, setelah wilayah tersebut mengalami gangguan listrik.
Jadi pemicunya bukan semata-mata soal harga gas. Yang terjadi adalah pemerintah mendahulukan kebutuhan dalam negeri, dan ini menunjukkan bahwa alokasi ekspor bisa diubah sewaktu-waktu.
MEDC: yang paling dekat dengan beritanya
Saham IDX yang paling layak dipantau adalah MEDC (Medco Energi). Alasannya, Medco punya hubungan langsung dengan bisnis gas yang dikirim ke Singapura. Medco E&P Grissik menandatangani kontrak pasokan lima tahun yang dimulai Agustus 2023, sedangkan Medco E&P Natuna juga punya perjanjian pasokan gas ke Singapura.
Namun, catat bahwa beritanya belum menjelaskan beberapa hal penting:
Karena itu, saya melihat MEDC sebagai saham yang paling cepat terkena dampak berita, bukan otomatis pihak yang pasti mencatat kerugian besar.
PGAS: untung atau cuma tebakan?
Sebagian orang mungkin langsung berpikir PGAS akan diuntungkan. Menurut saya, PGAS lebih tepat disebut kandidat penerima manfaat tidak langsung, bukan pemenang yang sudah terbukti.
Kalau gas yang dialihkan masuk ke jaringan atau penjualan domestik PGAS, volume penjualannya memang bisa naik. Tetapi beritanya tidak menyebut PGAS sebagai pembeli, penyalur, atau penerima alokasi gas tersebut. Maka kalau ada yang bilang “positif untuk PGAS”, itu masih sebatas dugaan.
Satu lagi, sebagian pasokan Sumatra disebut berasal dari lapangan Jambi Merang. Lapangan itu dioperasikan PHE Jambi Merang, bagian dari Pertamina Hulu Energi, dan bukan emiten tersendiri di IDX.
Jadi, bagaimana membacanya?
Pasar mungkin lebih dulu menghukum MEDC karena volume ekspornya jadi tidak pasti. Tetapi dampak ke laba baru bisa dinilai setelah tiga hal ini jelas:
Risiko jangka panjang yang menurut saya lebih penting adalah pernyataan pemerintah bahwa kontrak ekspor akan ditinjau saat jatuh tempo. Kalau itu benar terjadi, ekspor gas kita tidak lagi bisa dianggap aman.
Yang perlu dipantau: MEDC untuk risiko langsung, dan PGAS hanya kalau nanti ada bukti ia ikut menyerap atau menyalurkan gas domestik tersebut.
Disclaimer: ini bukan ajakan membeli atau menjual suatu saham tertentu, silahkan melakukan riset secara mandiri.
Sumber :
