![]() |
Malam ini saya mencoba mencari saham dari sektor Komoditas yaitu sawit yang harga nya kelihatan murah dan berfundamental baik, mumpung pasar sekarang sedang bertabur diskon jadi sayang kalau dilewatkan. Dan setelah sekian lama mencari, akhirnya saya menemukan kedua saham sawit yang kelihatannya murah dibandingkan saham – saham sawit yang lain, yaitu LSIP dan SIMP. Yang unik nya lagi kedua saham sawit tersebut juga dimiliki oleh nama besar seorang investor saham yaitu Bapak LO KHENG HONG.
Setelah saya menemukan kedua saham tersebut, saya kemudian coba melakukan perbandingan mengunakan fitur comparison di Stockbit antara kedua saham sawit tersebut, dan berdasarkan data Comparison di Stockbit per 12 Oktober 2026 dan laporan keuangan semester I 2026, saya melihat LSIP lebih unggul dari sisi kualitas fundamental dan kekuatan neraca, sementara SIMP tampak lebih murah terhadap nilai bukunya. Bagi saya, LSIP lebih menarik sebagai perusahaan yang kokoh dan mudah dianalisis. SIMP tetap menarik untuk investor yang bersedia menerima risiko lebih tinggi demi mengejar diskon valuasi dan potensi pemulihan laba.
Berikut analisis lengkapnya:
1. Aspek Fundamental dan kinerja usaha
Kedua perusahaan sama-sama bergerak di sektor sawit, tetapi model bisnisnya berbeda.
LSIP lebih terkonsentrasi pada perkebunan dan produk pertanian. Selain sawit, LSIP memiliki usaha karet, benih sawit, kakao, dan teh. Karena bisnisnya lebih dekat ke perkebunan, kinerja LSIP sangat dipengaruhi oleh harga jual CPO, produktivitas kebun, cuaca, serta biaya produksi. Model ini relatif lebih mudah saya pahami dan nilai.
Pada semester I 2026, penjualan LSIP naik 16% secara tahunan menjadi Rp2,69 triliun. Produksi TBS inti relatif stabil di 505 ribu ton, sementara produksi CPO naik 5% menjadi 136 ribu ton, ditopang kenaikan tingkat ekstraksi dan pasokan TBS eksternal. Laba usaha meningkat 28% menjadi Rp918 miliar, dan laba yang diatribusikan kepada pemilik induk naik 25% menjadi Rp891 miliar.
Namun, saya tidak
hanya melihat pertumbuhan laba bersih. Laba bruto LSIP justru turun dari Rp926
miliar menjadi Rp863 miliar. Kenaikan laba usaha turut dibantu oleh
kenaikan penghasilan operasi lain dan perubahan nilai wajar aset biologis (Aset
berupa tanaman yang dimiliki dan dikelola perusahaan untuk kegiatan pertanian).
Jadi, saya akan memantau apakah margin dan laba inti dapat membaik secara
berkelanjutan, bukan hanya apakah laba bersih tetap tumbuh.
SIMP memiliki usaha yang lebih terintegrasi. Perusahaan tidak hanya mengelola kebun, tetapi juga memiliki bisnis edible oils and fats (Perusahaan juga bergerak dalam pengolahan produk bernilai tambah), termasuk minyak goreng, margarin, dan produk turunan sawit. Bisnis ini memberi SIMP akses ke pasar hilir dan konsumen. Sebagian besar penjualan produk hilirnya dipasarkan di dalam negeri, sementara jaringan distribusi Indofood mendukung penyaluran produk.
![]() |
| Produk Turunan sawit |
Pada semester I
2026, pendapatan SIMP naik 2,5% menjadi Rp9,62 triliun, tetapi laba
bruto turun 3,7% menjadi Rp2,15 triliun. Margin laba kotor juga turun
dari 23,8% menjadi 22,4%, terutama karena biaya produksi sawit dan bahan
baku meningkat. Laba bersih konsolidasian naik 32,4% menjadi Rp1,01 triliun,
tetapi laba inti setelah pajak justru turun 1,9% menjadi Rp928 miliar.
Menurut saya,
angka tersebut penting: pertumbuhan laba bersih SIMP lebih besar daripada
pertumbuhan laba inti. Kenaikan laba bersih terbantu oleh keuntungan kurs dan
perubahan nilai wajar aset biologis. Karena itu, untuk menilai kesinambungan
kinerja SIMP, saya akan lebih mengutamakan arah laba inti, margin usaha, dan
arus kas daripada melihat angka laba bersih saja.
2. Aspek dan Prospek Bisnis
Prospek kedua
emiten ini mendapat dukungan dari permintaan sawit domestik. Indonesia mulai
menerapkan program biodiesel B50 pada 1 Juli 2026, dengan masa transisi
bertahap sebelum implementasi penuh. Kebijakan ini berpotensi menambah
kebutuhan CPO dalam negeri dan membantu menopang harga. Namun, dampaknya
terhadap laba perusahaan tetap bergantung pada harga jual, biaya bahan baku,
hasil panen, dan keseimbangan pasokan ekspor-domestik.
![]() |
Bagi LSIP,
prospek utamanya adalah peningkatan produktivitas kebun, efisiensi biaya, dan
harga jual produk sawit. Pada semester I 2026, produksi CPO meningkat meskipun
produksi TBS inti relatif datar. Jika produktivitas dan tingkat ekstraksi terus
membaik, LSIP berpeluang meningkatkan laba tanpa harus bergantung sepenuhnya
pada kenaikan harga CPO.
Bagi SIMP, saya
melihat potensi dari integrasi perkebunan dengan pengolahan dan produk
konsumen. Sekitar 94% volume penjualan CPO divisi perkebunan pada semester I
2026 dijual secara internal ke divisi hilir, naik dari 84% pada periode
yang sama tahun sebelumnya. Hal ini membantu pasokan bahan baku bagi bisnis
hilirnya, tetapi juga membuat hasil akhirnya bergantung pada kemampuan divisi
hilir menjaga volume penjualan dan margin.
Diversifikasi
SIMP juga membawa risiko tambahan. Hasil usaha patungan gula dan etanol di
Brasil masih mencatat kerugian sekitar Rp223 miliar pada semester I
2026. Jadi, SIMP memiliki lebih banyak sumber potensi pertumbuhan, tetapi laba
konsolidasinya juga lebih dipengaruhi oleh bisnis non-sawit dan faktor lain di
luar perkebunan Indonesia.
3. Aspek Neraca dan ketahanan finansial
Bagi saya,
kekuatan neraca adalah salah satu alasan utama LSIP lebih unggul secara
fundamental. Pada 30 Juni
2026, LSIP memiliki kas dan setara kas sekitar Rp8,37 triliun, total
aset Rp16,29 triliun, serta total kewajiban Rp1,98 triliun. Laporan keuangan
menunjukkan beban kewajibannya didominasi pos seperti utang usaha, dividen,
pajak, dan imbalan kerja, bukan pinjaman berbunga besar. Angka-angka dalam
Comparison juga menunjukkan likuiditas LSIP lebih kuat daripada SIMP.
![]() |
SIMP memiliki kas
sekitar Rp9,05 triliun, tetapi juga memiliki pinjaman berbunga sekitar
Rp9,08 triliun pada akhir Juni 2026. Secara kasar, posisi pinjaman bersihnya
mendekati nol sebelum memperhitungkan kewajiban lain. Rasio lancarnya masih di
atas 1x, sehingga kondisi likuiditasnya tetap memadai, tetapi ruang amannya
tidak sekuat LSIP.
Perbedaan ini
menjadi penting ketika harga CPO turun atau biaya operasional meningkat. LSIP
mempunyai bantalan kas yang besar dan beban utang yang relatif ringan. SIMP
mempunyai kas besar juga, tetapi utangnya lebih tinggi dan kebutuhan belanja
modalnya lebih besar.
4. Aspek Valuasi
Untuk valuasi, saya menggunakan angka Comparison di Stockbit per 12 Oktober 2026.
|
Tolok ukur |
SIMP |
LSIP |
|
P/E saat ini |
4,92x |
5,63x |
|
PBV |
0,41x |
0,70x |
|
EV/EBITDA |
2,60x |
0,63x |
|
Net profit margin
kuartalan |
9,25% |
35,14% |
|
Current ratio |
1,37x |
7,08x |
|
ROA TTM |
5,6% |
12,67% |
|
ROE TTM |
10,45% |
14,41% |
|
Arus kas operasi
TTM |
Rp3,01 triliun |
Rp2,63 triliun |
|
Free cash flow TTM |
Rp1,82 triliun |
Rp2,18 triliun |
Dari tabel
tersebut, SIMP tampak lebih murah menurut P/E dan PBV. PBV SIMP sekitar
0,41x, dibandingkan LSIP sekitar 0,70x. Dengan kata lain, harga SIMP berada
pada diskon yang lebih besar terhadap nilai bukunya.
Di sisi lain,
LSIP menunjukkan profitabilitas dan likuiditas yang lebih kuat. Dalam data:
margin laba bersih, ROA, ROE, current ratio, dan free cash flow-nya lebih
tinggi. Jadi, diskon valuasi SIMP
perlu dibandingkan dengan kualitas dan konsistensi labanya, bukan dianggap
otomatis sebagai peluang yang lebih baik.
Saya juga
berhati-hati membaca rasio EV/EBITDA yang sangat rendah pada LSIP. Posisi kas
LSIP yang besar dapat menekan nilai perusahaan atau enterprise value,
sehingga rasionya terlihat amat kecil. Rasio tersebut berguna sebagai petunjuk
awal, tetapi tidak saya anggap sebagai bukti tunggal bahwa saham pasti murah.
Untuk valuasi yang lebih menyeluruh, saya tetap ingin melihat normalisasi laba
sepanjang siklus komoditas serta kebutuhan belanja kebun dan pabrik.
Kesimpulan
Jika saya menilai
kualitas perusahaan, kekuatan neraca, profitabilitas, dan ketahanan
menghadapi siklus komoditas, saya memilih LSIP. Perusahaan ini
memiliki kas besar, utang yang relatif rendah, rasio likuiditas kuat, dan pada
snapshot menunjukkan profitabilitas yang lebih baik.
Jika saya menilai
diskon terhadap nilai buku dan potensi pemulihan, SIMP menarik
untuk dipertimbangkan. Namun, saya ingin melihat bukti bahwa laba inti, margin
kotor, dan arus kasnya membaik, karena pertumbuhan laba bersih semester I 2026
lebih tinggi daripada pertumbuhan laba inti.
Kesimpulan
akhir saya: LSIP adalah pilihan yang lebih kuat dari sisi kualitas fundamental
sedangkan SIMP adalah pilihan yang lebih murah dari sisi valuasi buku, namun lebih
banyak hal yang perlu dipantau. Untuk pendekatan value investing, saya lebih nyaman menempatkan LSIP
sebagai pilihan utama. SIMP saya anggap sebagai alternatif deep value
yang perlu dianalisis dengan margin keamanan lebih besar dan pengawasan lebih
ketat terhadap laba inti, utang, serta kinerja bisnis hilir.
Sumber :
[1] LSIP —
Siaran Pers Kinerja Semester I 2026
[2] LSIP —
Laporan Keuangan Interim per 30 Juni 2026
[3] SIMP/Indofood Agri — Laporan Keuangan Interim Semester
I 2026
[4] Indofood Agri — Edible Oils and Fats Division
Disclaimer on : Ini adalah pandangan saya berdasarkan data dan asumsi yang tertulis di atas. Analisis ini tidak menjamin hasil di masa depan dan bukan nasihat investasi yang disesuaikan dengan tujuan atau keadaan pribadi pembaca. Setiap keputusan investasi tetap memerlukan penilaian dan tanggung jawab masing-masing.




