Hijau dipajang, merah dilempar ke orang lain. Jangan-jangan yang kita kejar di pasar saham bukan cuan, tapi tepuk tangan.
Setelah sekitar lima tahun di pasar saham Indonesia, ada satu pelajaran yang paling sering saya lihat, dan itu bukan soal saham mana yang naik. Untung belum tentu bukti kita pintar, dan rugi belum tentu bukti pasar jahat. Orang yang lupa dua hal ini biasanya gampang pamer saat hijau dan gampang misuh saat merah.
Kamu pasti pernah lihat. Screenshot aplikasi sekuritas diunggah ke media sosial, angka cuan dipajang besar-besar, lalu ditutup kalimat sakti:
“Alhamdulillah, cuan lagi!”
“Sudah saya bilang, saham ini bakal terbang.”
“Yang kemarin meragukan, sekarang lihat hasilnya.”
Satu transaksi berhasil, seolah-olah itu bukti strateginya paling benar sedunia.
Lalu pasar berbalik arah
Harga turun, portofolio memerah, untung yang kemarin dibanggakan menguap pelan-pelan. Orang yang tadinya paling percaya diri mendadak jadi juru keluh kesah.
“Market nggak masuk akal!”
“Bandar sialan!”
“BEI nggak becus!”
“Saham sampah!”
Ada juga yang sampai mengabsen seisi kebun binatang. Bahkan sesama investor yang beda pandangan ikut kena semprot. Seolah-olah pasar punya kewajiban menghijaukan portofolionya tiap hari.
Menurut saya, fenomena ini lebih dalam daripada sekadar naik turunnya harga saham. Ini soal apa yang sebenarnya kita cari di pasar.
Pamer portofolio saham dan jebakan identitas diri
Saya tidak anti pamer hasil investasi. Ada yang membagikan portofolionya untuk berbagi pengalaman, memberi edukasi, atau mendokumentasikan perjalanan. Itu sah-sah saja.
Masalahnya muncul saat keuntungan dijadikan alat cari pengakuan. Hijau berarti hebat, pintar, di atas rata-rata. Merah berarti harga diri ikut ambles bersama nilai sahamnya.
Di sinilah kecenderungan narsistik kelihatan. Saya tidak sedang mendiagnosis siapa pun punya gangguan kepribadian narsistik, ya. Maksud saya perilaku yang haus pengakuan dan kecanduan validasi. Portofolio pun berubah dari kumpulan aset menjadi panggung.
Padahal cuan tidak selalu berarti analisisnya lebih jago. Kadang kita untung semata-mata karena pasar sedang baik hati. Sementara orang lain rugi walau sudah menganalisis dengan cukup matang. Dalam saham, nasib baik dan kemampuan sering susah dibedakan.
Mengumpat saat merah: pasar bukan ibu kita
Bagian paling menarik justru terlihat saat pasar sedang jelek. Setiap penurunan dianggap ketidakadilan. Setiap saham yang terkoreksi dianggap sedang digoreng bandar.
Padahal, bukankah risiko harga turun sudah ada sejak hari pertama kita buka rekening saham?
Benjamin Graham, guru Warren Buffett, punya analogi bagus soal ini, namanya Mr. Market. Bayangkan kamu punya rekan bisnis yang suasana hatinya naik turun. Pagi-pagi dia menawar bisnismu dengan harga selangit karena sedang euforia. Siang hari dia menawar murah sekali karena sedang murung. Kamu tidak wajib menuruti tawarannya, dan kamu jelas tidak berhak marah-marah karena suasana hatinya sedang buruk.
Nah, banyak dari kita malah melakukan sebaliknya. Saat Mr. Market euforia, kita ikut-ikutan pamer. Saat dia murung, kita memaki-makinya.
Pasar tidak pernah berjanji memberi cuan kepada siapa pun. Pasar juga tidak wajib menjaga perasaan investor yang sedang rugi.
Validasi sosial dan FOMO yang diam-diam membunuhmu
Ada hal yang sering terlupa: media sosial cuma menampilkan potongan kecil dari perjalanan investasi seseorang.
Kita melihat orang pamer cuan 30 persen, 50 persen, bahkan 100 persen. Tapi kita tidak tahu berapa modalnya, berapa rugi yang pernah dia alami, bagaimana kondisi portofolionya secara keseluruhan, dan apakah untungnya sudah benar-benar direalisasikan. Bisa jadi itu masih angka hijau di layar saja.
Screenshot untung satu saham tidak menggambarkan keberhasilan seluruh portofolio. Strategi yang cocok buat dia juga belum tentu cocok buat kita.
Tapi kita telanjur membandingkan. Lihat orang cuan besar, tergoda mengejar saham yang sedang terbang. Takut ketinggalan, beli tanpa paham bisnis dan valuasinya. Begitu harga berbalik turun, muncul penyesalan, lalu mencari pembenaran atau menyalahkan pihak lain. Siklus ini bisa berulang terus selama tujuan berinvestasi lebih banyak untuk mendapat pengakuan ketimbang membangun kekayaan.
Saya pun pernah merasakan merahnya
Biar adil, saya tidak sedang bicara dari menara Eifel. Sebelum fokus ke saham Indonesia, saya pernah main crypto dan sempat minus lebih dari 90 persen. Jadi saya tahu betul rasanya melihat angka merah sedalam itu, dan betapa menggodanya mencari kambing hitam di saat seperti itu.
Justru karena itu saya percaya satu hal: kecewa itu manusiawi, kesal juga wajar. Yang jadi masalah adalah menjadikan kerugian sebagai izin untuk terus menyalahkan semua orang.
Cara jadi investor yang tidak perlu selalu terlihat benar
Menurut saya, tanda kedewasaan investor bukan seberapa sering dia pamer untung, melainkan bagaimana dia menyikapi rugi dan kesalahannya sendiri. Ini beberapa hal yang bisa kita latih:
1. Pisahkan hasil dari kualitas keputusan
Untung tidak otomatis berarti keputusannya benar, rugi tidak otomatis berarti salah. Catat alasan kenapa kamu beli, lalu nilai alasan itu, bukan cuma warna portofolionya.
2. Tanya diri sendiri sebelum menunjuk bandar
Apakah saya beli terlalu mahal? Apakah saya terlalu percaya diri dengan prospek perusahaannya? Apakah saya punya margin of safety yang cukup, yaitu jarak aman antara harga beli dan nilai wajar saham? Atau jangan-jangan saya beli cuma karena ikut-ikutan?
3. Pamerkan proses, bukan sekadar screenshot
Kalau mau berbagi, bagikan alasan, risiko, dan pelajarannya, termasuk saat rugi. Itu jauh lebih berguna bagi orang lain, dan jauh lebih jujur.
4. Jadikan Mr. Market pelayan, bukan guru
Kata Buffett, ikuti tawarannya kalau menguntungkan, abaikan kalau tidak. Kalau fundamental perusahaan memburuk, evaluasi dan pertimbangkan ulang. Kalau harga turun cuma karena sentimen sementara dan bisnisnya tetap sehat, tidak perlu langsung panik.
Investasi seharusnya melatih kesabaran, disiplin, dan kemampuan mengendalikan emosi. Bukan malah membuat kita makin haus pengakuan dan gampang meledak.
Portofolio bukan panggung tepuk tangan
Pada akhirnya, portofolio adalah tanggung jawab masing-masing. Silakan pamer untung kalau memang mau berbagi kebahagiaan. Silakan cerita soal rugi kalau tujuannya belajar bersama. Tapi jangan sampai untung bikin kita merasa paling hebat, dan rugi bikin kita kehilangan akal sehat.
Di dunia saham, tidak ada investor yang selalu benar. Investor kawakan pun pernah salah ambil keputusan. Jadi, jangan jadikan pasar saham sebagai tempat membuktikan diri. Bukan berarti saya melarang kamu pamer dalam berinvestasi. Pasar tetap tempat yang bagus untuk membangun kekayaan, asal tujuannya benar.
Tujuan investasi bukan untuk terlihat kaya di mata orang lain, melainkan membangun kekayaan untuk diri sendiri.
Dan kalau setiap portofolio merah kita harus mengumpat satu dunia, mungkin yang perlu diperbaiki bukan cuma strategi investasinya. Cara kita memandang investasi itu sendiri juga perlu dicek lagi. Semoga tulisan ini bisa jadi pengingat buat saya, dan buat kamu juga.
