![]() |
| Ilustrasi industri otomotif | Foto oleh Lenny Kuhne di Unsplash |
Laba inti Astra International (ASII) pada kuartal III 2026 diperkirakan naik 11,5% dari tahun lalu, tetapi pasar tidak menyambutnya dengan gembira.
Sahamnya ditutup di Rp4.690 pada 29 Oktober 2026, turun 6,2% dari Rp5.000 sehari sebelumnya, tepat setelah laporan keuangan kuartal III dirilis. Di harga itu, PBV ASII sekitar 0,78 kali. Jadi, bagaimana prospek ASII kedepan?
Turun 6,2% dalam sehari bukan angka kecil untuk saham sebesar ASII. Namun, kalau kita lihat kinerjanya, ternyata ini bukan semata-mata soal laporan Astra. Nanti kita bahas penyebab lainnya di bagian risiko pasar. Sekarang kita lihat dulu apa isi laporan keuangannya.
1. Laba Rugi Kuartal III dan 9M 2026
Menurut laporan keuangan kuartal III 2026 Astra, pendapatan sembilan bulan pertama (9M) mencapai Rp243,9 triliun, nyaris sama dengan tahun lalu. Laba bersih di luar pos nonberulang turun tipis 1% menjadi Rp24,6 triliun, sedangkan laba bersih yang dilaporkan turun 12% menjadi Rp21,6 triliun. Selisih Rp3,0 triliun itu berasal dari pos nonberulang, yaitu pendapatan atau beban yang sifatnya tidak rutin dan bukan dari kegiatan usaha sehari-hari, sehingga tidak diharapkan terulang setiap tahun. Di Astra, pos ini terutama berupa penurunan nilai (aset dibukukan lebih rendah karena nilainya dinilai turun) dan penyesuaian nilai wajar investasi. Itu sebabnya laba di luar pos ini lebih mencerminkan kekuatan bisnis intinya. Catat bahwa angka 9M ini belum diaudit.
Kemudian inilah menariknya. Dengan mengurangi angka semester I (1H) dari angka 9M, saya memperkirakan:
- Pendapatan kuartal III sekitar Rp86,0 triliun, naik 6,4% dari sekitar Rp80,8 triliun pada kuartal III 2025.
- Laba bersih pemilik induk di luar pos nonberulang sekitar Rp9,7 triliun, naik 11,5% dari Rp8,7 triliun.
- Laba bersih yang dilaporkan sekitar Rp9,1 triliun, hanya naik sekitar 1,2% dari Rp9,0 triliun.
Artinya, operasinya membaik, tetapi pos nonberulang masih menahan angka utamanya. Ingat, ini hitungan saya dari selisih laporan 1H dan 9M, bukan angka kuartalan yang disajikan terpisah oleh perusahaan.
Namun balik lagi ke paruh pertama tahun. Menurut laporan semester I Astra, pendapatan turun 3%, laba bruto turun 7%, laba operasi turun 25%, dan laba bersih turun 19%. Margin bruto menyusut dari sekitar 21,4% menjadi 20,6%. Kuartal III memang membalik sebagian tren laba, tetapi laporan Astra hanya menyajikan angka kumulatif 9M, tanpa margin khusus kuartal III, sehingga belum bisa dipastikan apakah margin sudah membaik. Jadi, belum cukup bukti bahwa tekanan margin sudah selesai.
2. Dari Mana Laba Datang?
Okay, lanjut ke sumber labanya. Menurut laporan keuangan kuartal III 2026, tiga segmen yang tampil bagus pada 9M adalah:
- Otomotif: laba naik 8% menjadi Rp9,8 triliun, ditopang penjualan mobil Astra yang naik 13% dan laba komponen yang naik 15%.
- Jasa keuangan: laba naik 6% menjadi Rp7,2 triliun. Piutang pembiayaan bersih bertambah 6% menjadi Rp132 triliun dan penyaluran pembiayaan baru naik 8% menjadi Rp92,5 triliun.
- Segmen lain-lain: laba naik 36% menjadi Rp2,6 triliun.
Sebaliknya, segmen Mining Solutions & Heavy Equipment belum pulih. Labanya turun 28% menjadi Rp5,1 triliun sebelum pos nonberulang. Ketika penjualan alat berat Komatsu turun 17% dan penjualan batu bara turun 23%, maka laba segmen ikut tertekan. Ditambah lagi, penjualan emas hanya 54 ribu ons, dibandingkan 178 ribu ons setahun sebelumnya.
Kenapa emasnya anjlok? Produksi tambang Martabe sempat terhenti pada awal tahun. Menurut keterangan perusahaan, operasinya berjalan kembali sejak kuartal II dan laba segmen tumbuh 15% tahun-ke-tahun pada kuartal III. Namun, segmen itu juga mencatat sekitar Rp2,2 triliun pos nonberulang pada 9M. Menurut pemberitaan Reuters, izin operasi Martabe sempat dicabut pemerintah setelah tuduhan pelanggaran lingkungan, dan pemerintah pernah mengumumkan rencana pengambilalihan sebelum kemudian meninjau kembali keputusan tersebut. Jadi, persoalannya lebih dari sekadar siklus komoditas.
Apakah pertumbuhan jasa keuangan dan otomotif yang positif ini cukup untuk menutup tambang yang belum pulih? Untuk sementara, jawabannya baru sebagian. Siapa yang tahu apakah kuartal IV akan membuktikan sebaliknya?
3. Neraca Keuangan
Neracanya masih punya bantalan, tetapi bantalannya menipis. Menurut laporan Astra, kas bersih di luar anak usaha jasa keuangan turun menjadi Rp1,8 triliun dari Rp7,2 triliun pada akhir 2025. Astra mengaitkannya terutama dengan akuisisi Arafura Surya Alam dan pembelian kembali saham.
Sementara itu, anak usaha jasa keuangan memiliki utang bersih Rp66,7 triliun, naik dari Rp64,9 triliun. Utang di bisnis pembiayaan tidak setara dengan utang korporasi industri karena menjadi bagian dari model pendanaannya. Tetapi kenaikannya tetap penting dipantau bersama pertumbuhan piutang dan kualitas kredit. Di sisi lain, nilai aset bersih per saham naik 5% menjadi Rp5.999.
4. Dividen dan Valuasi Harga Saham
Dengan harga Rp4.690, PBV ASII sekitar 0,78 kali. EPS 9M tercatat Rp541 (dilaporkan) dan Rp616 (di luar pos nonberulang). Jika disetahunkan secara sederhana, PER-nya sekitar 6,5 kali berdasarkan EPS dilaporkan, atau 5,7 kali berdasarkan EPS tanpa pos nonberulang.
Tapi hati-hati, ini bukan estimasi laba setahun penuh. Penyetahunan mengasumsikan sisa tahun berjalan pada laju yang sama, padahal hasilnya bisa berubah karena musim, harga komoditas, dan pos akuntansi.
Bagaimana dengan dividennya? Dividen Rp390 per saham yang tercatat untuk dua belas bulan terakhir setara imbal hasil dividen historis sekitar 8,3% pada harga tersebut. Yang itu artinya cukup menarik, tetapi tidak dijamin berulang. Perusahaan juga menyebut program pembelian kembali saham yang dapat mendukung EPS per saham. Namun, pembelian kembali saham tidak menggantikan pertumbuhan laba operasional.
5. Risiko Pasar Indonesia: Apa yang Ikut Menekan Harga?
Ngomong-ngomong, balik lagi ke soal tekanan pasar secara keseluruhan. Menurut laporan Reuters, MSCI sedang mempertimbangkan penurunan klasifikasi Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone) karena kekhawatiran soal transparansi, tata kelola, dan pembentukan harga. Isu ini sudah memicu tekanan luas pada saham Indonesia. Dan alhasil, valuasi ASII bisa terdiskon lebih lama, terlepas dari kualitas bisnisnya.
Jadi pertanyaan nya, Menarik atau Tidak?
Pendapat saya: ASII menawarkan valuasi rendah terhadap laba dan nilai buku, ditambah bisnis yang terdiversifikasi serta pemulihan di otomotif dan jasa keuangan. Namun, diskon itu mencerminkan risiko yang nyata, yaitu laba tambang yang belum pulih penuh, beban penurunan nilai, dan tekanan pasar Indonesia. Kalau saya sendiri investor berjangka panjang yang siap menghadapi volatilitas, saya akan memperlakukan Rp4.690 sebagai titik harga yang layak untuk riset lanjutan dan akumulasi bertahap, bukan sebagai sinyal murah tanpa risiko.
Ada dua hal yang saya pantau berikutnya:
- Laba inti kuartal IV: apakah kenaikan laba inti kuartal III berlanjut.
- Volume tambang dan Martabe: apakah kembali normal tanpa beban luar biasa baru.
Lantas, apakah ASII sudah layak disebut saham yang terdiskon? Jadi gimana menurut pandangan teman-teman investor? Menarik atau tidak?
Disclaimer: ini bukan ajakan membeli atau menjual suatu saham tertentu, silahkan melakukan riset secara mandiri.
Sumber:
- Astra 2026 Third Quarter Financial Statements, 28 October 2026
- Astra First Half of 2026 Business Update
- Astra Consolidated Financial Statements, 30 June 2026
- Reuters: Indonesia reviews decision to take over Martabe gold mine
- Reuters: MSCI's case against Indonesian stocks and $65 billion fallout
