![]() |
Belakangan ISAT makin sering dibicarakan, terutama karena cerita AI dan pusat datanya. Per 21 Oktober 2026, harga acuan dalam riset KB Valbury ada di Rp1.785, sementara target harganya Rp2.500. Artinya ada potensi naik 40,1%. Menarik, kan? Tapi pertanyaannya: apakah ISAT ini beneran saham AI? Prospek kedepan?
Jawaban singkat
saya: ISAT menarik, tapi alasan utama membelinya tetap harus datang dari
bisnis telekomunikasinya, bukan dari AI.
Kenapa begitu?
ISAT pada dasarnya adalah operator telekomunikasi yang sedang melebarkan sayap
ke infrastruktur digital dan AI. Nah, alasan paling kuat untuk memegang
sahamnya sekarang ada tiga: pemakaian data seluler masih bisa tumbuh,
pendapatan per pelanggan (ARPU) berpeluang naik, dan perusahaan makin efisien
sehingga laba bisa tumbuh lebih cepat daripada pendapatan. AI itu bonus.
Menjanjikan, tapi belum cukup jelas untuk dijadikan dasar menilai harga saham.
Jadi sikap saya
begini: saya suka ISAT, dengan syarat. Bisnis intinya harus terus
tumbuh, dan ekspansi barunya harus menghasilkan keuntungan yang sepadan. Saya
tidak akan menganggap ISAT sebagai saham AI murni, dan saya tidak mau bayar
mahal hanya karena janji AI.
Apa yang Bikin ISAT Menarik?
Okay, kita mulai dari yang paling kuat: bisnis data. Riset KB Valbury memperkirakan pendapatan data tumbuh 7,6% pada 2026, dengan ARPU Rp44.900 dan yield data sekitar Rp2,4 per MB (yield di sini artinya pendapatan yang didapat dari setiap MB data yang dipakai pelanggan). Catat bahwa yang penting bukan cuma pemakaian datanya naik, tapi apakah tiap MB yang dipakai benar-benar menghasilkan uang yang sehat. Kalau ARPU bisa tetap naik tanpa kehilangan pelanggan atau harus banting harga, maka margin dan laba ikut terdorong.
Yang kedua adalah
efisiensi. Proyeksi KB Valbury untuk 2026: EBITDA tumbuh 5,6%, sedikit
lebih tinggi dari pendapatan yang tumbuh 4,9%, dengan laba bersih sekitar Rp6
triliun. Artinya perusahaan bisa menghasilkan lebih banyak laba dari tiap
rupiah pendapatan. Tapi hati-hati: kalau selisih ini datang dari penghematan
yang cuma sekali jalan, kualitasnya beda dengan penghematan yang bisa berulang.
But still, ini baru proyeksi analis. Yang perlu kita tunggu adalah hasil
sebenarnya, dan berapa kas yang tersisa setelah belanja modal.
Kalau bicara hasil yang sudah terjadi, semester I 2026 terlihat bagus. Pendapatan naik 13,1%, EBITDA naik 14%, dan ARPU naik 17,3% menjadi Rp46 ribu. Perusahaan juga menyebut AI Cloud menghasilkan pendapatan US$33 juta di semester I 2026, padahal sepanjang 2025 hanya US$28 juta. Ini sinyal awal yang lebih nyata daripada sekadar rencana. Namun, belum cukup untuk bilang AI akan langsung mengubah laba perusahaan secara keseluruhan. Seberapa besar sumbangannya, berapa marginnya, berapa modal yang harus dikeluarkan, dan apakah pertumbuhannya bisa berulang, semuanya masih harus kita pantau.
Risiko yang Menurut Saya Paling Penting
Uang yang Dikeluarkan Besar, Kasnya Aman?
Risiko terbesar adalah kebutuhan dana. ISAT sedang membangun jaringan sekaligus masuk ke bisnis AI, pusat data, dan NeoCloud. Kontan melaporkan target belanja modal (capex) 2026 dinaikkan menjadi Rp23 triliun, itu belum termasuk GPU. Kalau GPU dihitung, totalnya sekitar Rp34 triliun. Besar sekali. Karena itu, laba bersih yang naik saja belum cukup untuk bilang strateginya berhasil. Yang harus kita lihat: dari uang sebesar itu, berapa yang balik jadi kas, dan dari mana sisanya dibiayai.
Satu lagi yang
perlu dibedakan: uang hasil jual aset dengan uang yang rutin masuk
dari operasional. Perusahaan menyebut transaksi fiber dengan Arsari Group
menghasilkan sekitar Rp11,7 triliun (kotor) dan membuat perusahaan lebih ringan
dalam memegang aset. Ini memang memberi ruang untuk pendanaan, tapi tidak bisa
menggantikan kemampuan bisnis menghasilkan kas secara terus-menerus. Pemegang
saham baru benar-benar untung kalau uang itu dipakai untuk proyek yang hasilnya
bagus.
Data Banyak Dipakai, Tapi Labanya Ikut Naik?
Risiko kedua: pemakaian data yang naik belum tentu bikin
laba naik sebanding. Bayangkan kalau yield data turun, pelanggan pindah ke
paket lebih murah, perang harga makin panas, atau biaya jaringan naik lebih
cepat. Pemakaian data memang tumbuh,
tapi hasilnya jadi kurang berarti. Makanya saya tidak mau cuma melihat trafik.
Saya akan lihat ARPU, yield, churn (pelanggan yang berhenti), dan biaya
jaringan secara bersamaan.
Berapa Besar Sumbangan AI?
Risiko ketiga adalah ketidakjelasan kontribusi AI. Riset KB Valbury mencatat ISAT memegang 25% saham BDx Indonesia dan 37% saham Zankore. Tapi potensi keduanya tidak dihitung dalam valuasi dasar, karena hasil investasinya, kebutuhan dananya, dan dampaknya ke neraca belum jelas. Dan ingat, punya sebagian saham bukan berarti ISAT otomatis mendapat seluruh pendapatan atau laba bisnis itu. AI baru pantas dihargai lebih tinggi kalau sudah jelas berapa modal yang dibutuhkan, seberapa terpakai kapasitasnya, berapa pendapatan yang sudah terkontrak, berapa marginnya, dan berapa hasil dari investasinya.
Bagaimana Membaca Target Harga Rp2.500?
Target Rp2.500 dari KB Valbury dihitung dengan valuasi 3,0x EV/EBITDA untuk FY2026. Angka ini sama dengan rata-rata lima tahun terakhir menurut analisnya. Harga acuannya Rp1.785 pada 21 Oktober 2026, sehingga potensi naiknya 40,1%. Catat bahwa ini bukan target berbasis AI: analis menyatakan yang dinilai adalah bisnis inti, sedangkan potensi AI belum dihitung.
Jadi, ISAT Murah?
Belum tentu.
Potensi naik 40% di atas kertas tidak otomatis berarti sahamnya murah, karena
itu cuma pandangan satu rumah riset dan bergantung pada asumsi mereka.
Pertanyaan yang lebih penting: apakah laba dan EBITDA yang diproyeksikan
benar-benar tercapai, apakah belanja modal yang besar menekan kas dan neraca,
dan apakah pasar masih mau menghargai ISAT seperti rata-rata dulu. Kalau
pertumbuhan dan arus kasnya memburuk, rata-rata lama itu belum tentu patokan
yang pas. Siapa yang tahu.
Kesimpulan
ISAT adalah
peluang pertumbuhan, tapi risikonya juga nyata: butuh dana besar dan harus
berhasil dieksekusi. Saya lebih percaya pada cerita bisnis data dan
efisiensinya daripada cerita AI-nya. AI bisa jadi nilai tambah, tapi untuk saat
ini saya anggap masih peluang yang belum pasti, bukan sumber nilai utama yang
sudah terbukti.
Kalau saya
investor jangka panjang, ada tiga hal yang akan saya pantau:
- Apakah ARPU dan pendapatan data terus tumbuh tanpa membuat pelanggan kabur?
- Apakah EBITDA benar-benar jadi kas setelah dikurangi belanja modal, bunga, dan modal kerja?
- Apakah bisnis AI dan pusat data mulai menunjukkan pendapatan dan hasil yang sepadan dengan investasi dan risiko pendanaannya?
Kalau tiga hal
itu membaik, cerita ISAT makin kuat dan AI bisa jadi tambahan nilai. Namun
balik lagi, kalau pendapatan tetap naik tapi kasnya habis tergerus belanja
modal dan beban pendanaan, atau AI-nya ternyata lama baru menghasilkan, pasar
bisa saja menurunkan penilaian terhadap ISAT. Jadi sikap saya optimis tapi
hati-hati: bisnis inti yang sehat dan disiplin soal uang harus lebih dulu
membuktikan diri. Cerita AI saja belum cukup.
Sumber:
- Riset KB Valbury, 22 Oktober 2026.
- Rilis resmi ISAT, 28 Juli 2026.
- Monetisasi Data Solid, Prospek AI Jadi Bonus Valuasi Saham ISAT, Artikel Kontan, 23 Oktober 2026.
- Capex Tinggi Jadi Tantangan ISAT, Monetisasi Ekspansi Diproyeksi Mulai 2027, Artikel Kontan, 21 September 2026.
