![]() |
| Ilustrasi alat-alat kesehatan. |
Saham OMED
ditutup di Rp195 per 23 Oktober 2026, hanya 8% di atas titik terendah 52
minggunya (Rp180) dan sekitar 39% di bawah titik tertingginya (Rp318). Menurut
Google Finance, kapitalisasi pasarnya kini sekitar Rp5,28 triliun. Padahal
laporan semester I 2026 mencatat laba bersih naik 43,2%. Prospek kedepan?
Tulisan ini
terdiri dari empat bagian besar: (1) profil bisnis OMED, (2) kinerja keuangan
FY2025 dan semester I 2026, (3) valuasi dengan tiga skenario harga, dan (4)
risiko serta hal yang perlu dipantau. Nah, kita mulai dari yang pertama.
1. Profil Bisnis OMED
PT Jayamas Medica
Industri Tbk (OMED) memproduksi dan memperdagangkan alat kesehatan dengan merek
utama OneMed. Menurut laporan tahunan 2025, produknya lebih dari 3.550 SKU
aktif dalam tujuh kelompok: alat medis sekali pakai, perawatan luka, diagnostik
dan peralatan, antiseptik dan dialisis, bioteknologi dan laboratorium, alat
bantu jalan dan rehabilitasi, serta furnitur rumah sakit. Menurut situs
perseroan, pabriknya ada di Krian (Sidoarjo) dan Mojoagung (Jombang), lalu
dijual lewat jaringan distribusi domestik.
Nah, jadi model
bisnisnya begini. Misalkan sebuah rumah sakit membutuhkan sarung tangan,
perban, cairan antiseptik, sampai tempat tidur pasien; kalau semuanya bisa
dibeli dari satu pemasok, maka rumah sakit itu tidak perlu mengurus banyak
pemasok, dan OMED bisa menjual lebih banyak jenis barang ke pelanggan yang
sama. Barang sekali pakai dan perawatan luka juga dibeli berulang, sehingga
permintaannya relatif stabil. Namun ragam produk yang sangat banyak berakibat
pada pengadaan, peramalan, pengendalian mutu, dan manajemen stok yang lebih
rumit.
Lalu dari mana penjualannya? Menurut laporan tahunan 2025, dari total penjualan Rp2,064 triliun:
- Alat sekali pakai dan barang habis pakai: Rp1,006 triliun , tumbuh sekitar 9%.
- Perawatan luka: Rp333,5 miliar, tumbuh sekitar 16%.
- Diagnostik dan peralatan: Rp238,6 miliar, turun dari Rp256,4 miliar.
- Antiseptik dan dialisis: Rp226,5 miliar.
- Bioteknologi dan laboratorium: Rp118,1 miliar, tumbuh sekitar 30%.
Catat bahwa
hampir separuh penjualan bertumpu pada barang habis pakai. Sehingga hasil usaha
OMED sangat dipengaruhi volume dan harga jual barang tersebut, juga harga
plastik, tekstil, bahan kimia, dan kurs impor.
2. Kinerja Keuangan
Okay, lanjut ke
kinerja keuangan, dan kita mulai dari tahun lalu.
FY2025: Laba Tumbuh Lebih Cepat dari Penjualan
Menurut laporan
keuangan konsolidasian FY2025, penjualan neto naik 9,4%
dari Rp1,886 triliun menjadi Rp2,064 triliun, dimana laba bruto naik lebih
cepat, 15,0%, menjadi Rp717,5 miliar. Laba usaha naik 12,2% ke Rp390,9 miliar
dan laba bersih naik 13,9% ke Rp368,9 miliar, dengan EPS dasar Rp13,57. Margin
kotor membaik dari sekitar 33,1% ke 34,8%, margin usaha dari 18,5% ke 18,9%,
dan margin bersih dari 17,2% ke 17,9%. Yang itu artinya pertumbuhan laba bukan
hanya karena penjualan naik, tetapi juga karena komposisi produk atau
efisiensinya membaik.
Namun laba 2025
turut ditopang penghasilan keuangan Rp63,4 miliar dan pendapatan lain-lain
bersih Rp64,0 miliar, sehingga laba sebelum pajak belum tentu mencerminkan
kemampuan laba operasi yang berulang.
Semester I 2026: Melesat
Kemudian inilah
menariknya: semester I 2026. Menurut laporan interim per 30 Juni 2026 (terbit
30 Juli 2026), penjualan melesat 26,0% menjadi Rp1,167 triliun dari Rp925,8
miliar setahun sebelumnya. Laba bruto naik 34,1% ke Rp419,3 miliar, laba usaha
naik 42,3% ke Rp231,5 miliar, laba sebelum pajak naik 45,2% ke Rp280,6 miliar,
dan laba bersih naik 43,2% ke Rp221,5 miliar. Laba untuk pemilik induk naik
42,7% ke Rp219,4 miliar, dengan EPS Rp8,12 dibanding Rp5,68.
Margin kotor naik
dari 33,8% ke 35,9%, margin usaha dari 17,6% ke 19,8%, dan margin bersih dari
16,7% ke 19,0%. Dan alhasil, laba usaha tumbuh lebih cepat daripada pendapatan,
tanda yang bagus.
Laba Naik 43%, Tapi Apakah Bisa Berulang?
Nah, di sinilah
saya mulai berhati-hati, karena ada dua hal yang mengganjal.
Pertama, pos lain-lain ikut menyumbang. Menurut laporan interim yang sama,
penghasilan lain-lain bersih naik dari Rp30,5 miliar menjadi Rp49,0 miliar,
dimana pos lain-lain bersih di dalamnya melonjak dari Rp6,6 miliar menjadi
Rp33,1 miliar. Ketika sebagian laba datang dari pos yang belum tentu terulang,
maka laju laba bersih 43% tidak bisa langsung dianggap laju yang bertahan. Laba
usaha yang naik 42% adalah bukti operasional yang lebih kuat, meski margin ini
tetap harus dipantau.
Kedua, kasnya justru turun. Ibaratnya toko yang catatan penjualannya
makin ramai, tetapi uang di lacinya tidak ikut bertambah. Menurut laporan yang
sama, arus kas operasi semester I sebesar Rp143,5 miliar, turun 12,9% dari
Rp164,7 miliar, padahal laba bersih naik. Rasio arus kas operasi terhadap laba
bersih hanya sekitar 0,65 kali, artinya baru sekitar 65% laba yang sudah
berubah menjadi uang tunai. Arus kas investasi bersih keluar Rp220,5 miliar
(terutama investasi dan belanja aset), sedangkan arus kas pendanaan bersih
masuk sekitar Rp30,6 miliar, termasuk transaksi jual-sewa-balik dan pelunasan
pinjaman. Sehingga kualitas pertumbuhan baru terbukti dari kas semester
berikutnya, bukan hanya dari laba akrual.
Persediaan Menumpuk?
Ngomong-ngomong,
balik lagi ke neraca. Per 31 Desember 2025, total aset Rp3,198 triliun dan
ekuitas Rp2,753 triliun, dengan rasio liabilitas terhadap ekuitas hanya sekitar
0,16 kali. Kas dan setara kas sekitar Rp1,278 triliun, sedangkan persediaan
Rp746,4 miliar atau 23,3% dari total aset. Per 30 Juni 2026, ekuitas naik
menjadi Rp2,866 triliun, kas dan setara kas sekitar Rp1,264 triliun, persediaan
bersih Rp735,8 miliar, dan piutang usaha Rp324,0 miliar.
Kas besar dan
utang kecil adalah bantalan yang kuat. Tapi persediaan yang tetap tinggi perlu
diawasi, karena menurut laporan auditor FY2025, kecukupan penyisihan keusangan
persediaan menjadi hal audit utama mengingat barangnya habis pakai dan berisiko
kedaluwarsa atau rusak. Ini risiko operasional
yang layak dipantau.
Angin Segar dari Kebijakan Pemerintah
Tahukah anda
bahwa pemakaian alat kesehatan dalam negeri naik dari 12% pada 2019 menjadi 48%
pada 2024? Menurut Kementerian Kesehatan, per Juni 2025 tercatat 812 produsen
domestik dan 16.930 izin edar produk dalam negeri, dan pemerintah mendorong
pembelian produk lokal lewat pertemuan dagang dan e-Katalog. Menurut laporan
tahunan 2025, strategi OMED mencakup peningkatan TKDN, efisiensi biaya, bahan
baku lokal, otomatisasi lini produksi, transformasi digital, serta perluasan
pasar dan ekspor.
Ini angin segar bagi produsen lokal. Namun balik lagi kalau bicara menang kontrak, angin segar bukan jaminan, dan ada batasnya:
- Persaingan harga nyata. Pemain di industri ini banyak. Merek dan ragam produk memang memberi nilai tambah, tetapi bukti publik belum cukup untuk menyimpulkan OMED bisa menahan harga tetap tinggi dalam jangka panjang.
- Bergantung pada izin edar dan pembelian instansi. Ketika izin atau pengadaan bermasalah, maka penjualan ikut tersendat.
- Ekspor tidak mudah. Butuh izin, jalur penjualan, dan mutu yang konsisten di tiap negara.
- Bahan baku dan kurs. Biaya yang naik sementara harga jual terlambat menyusul akan menekan margin.
3. Valuasi: Semurah Apa Sebenarnya?
Okay, lanjut ke
valuasi. Menurut laporan FY2025, jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh
sebanyak 27,059 miliar lembar, sehingga pada Rp195 kapitalisasi pasarnya
sekitar Rp5,28 triliun. Dibanding laba 2025 untuk pemilik induk sebesar Rp367,1
miliar, PER historisnya sekitar 14,4x.
EPS semester I Rp8,12 yang dikali dua menjadi Rp16,24 memberi PER sekitar 12,0x (hitungan sederhana yang
menganggap semester II sama dengan semester I, bukan proyeksi manajemen), dan
PBV-nya sekitar 1,84x terhadap
ekuitas semester I. Google Finance menampilkan PER sekitar 12,2x dan EPS
sekitar Rp16, sejalan dengan hitungan saya.
Tiga Skenario Harga 12 Bulan ke Depan
Nah, jadi caranya sederhana, bukan hitungan yang rumit: harga wajar = laba per saham (EPS) 12 bulan ke depan × PER yang dipakai. Angka EPS di bawah adalah asumsi saya, bukan perkiraan analis atau panduan perusahaan.
![]() |
- Skenario buruk. Anggap saja lonjakan semester I tidak bertahan, margin melemah lagi, kenaikan dari pos lain-lain tidak terulang, dan kas tertinggal. Dan alhasil EPS turun dari Rp16,24 ke Rp14,5, sementara pasar yang ragu pada stok serta arus kas hanya mau membayar 10x.
- Skenario wajar. Penjualan dan margin tetap membaik, tetapi lebih pelan dari semester I. EPS Rp18 berarti naik sekitar 11% dari Rp16,24, dengan PER 13x untuk bisnis dan neraca yang baik tanpa harga premium.
- Skenario terbaik. Produk lokal, pengadaan instansi, perawatan luka, bioteknologi, dan ekspor tumbuh baik. EPS Rp20,3 berarti naik sekitar 25%, dan pasar mau membayar 16x karena makin yakin pada kualitas pertumbuhan dan margin. Namun skenario ini butuh bukti tambahan, terutama arus kas operasi yang kembali sejalan dengan laba.
Rentang ini bukan target harga resmi dan sangat peka terhadap asumsi.
Jadi, Murah atau Tidak?
Okay, lanjut ke
pertanyaan utamanya. Harga Rp195 sudah sekitar 17% di bawah harga skenario
wajar (Rp234), sehingga secara angka margin of safety-nya ada. Tapi tipis,
karena risiko turun di skenario buruk (sekitar 26%) lebih besar dari potensi
naik di skenario wajar (sekitar 20%), dan hanya skenario terbaik yang membuat
potensi untungnya jauh melebihi risikonya.
Dengan EPS Rp14,5
dan PER 10x, saham ini tidak murah di Rp195. Namun dengan laba berulang
mendekati Rp18 sampai Rp20 per saham dan kas yang membaik, valuasinya jauh
lebih menarik. Siapa yang tahu mana yang akan terjadi? Itu sebabnya keyakinan
saya sedang, bukan tinggi, karena data laporan
FY2026 belum tersedia.
Kalau saya sendiri yang jadi pemegang saham OMED, maka saya akan menunggu laporan semester II sebelum menambah posisi. Pendapat saya: fundamentalnya positif, tetapi harga Rp195 belum cukup memberi ruang aman sebelum dua hal terbukti, yaitu arus kas operasi kembali sejalan dengan laba, dan lonjakan laba tidak hanya datang dari pos lain-lain.
4. Risiko dan Hal yang Perlu Dipantau
Nah, jadi apa saja yang perlu diwaspadai?
Risiko utamanya:
- Laba
nonberulang. Kenaikan laba ternyata banyak didorong
pos lain-lain.
- Margin tertekan oleh bahan baku, kurs, persaingan, atau biaya
distribusi.
- Persediaan lambat laku atau usang, sehingga penyisihan harus ditambah.
- Modal kerja menyerap kas lewat persediaan dan piutang.
- Ketergantungan pada belanja institusi seperti e-Katalog.
- Masalah mutu dan perizinan produk, termasuk reputasi.
- Kepemilikan nonpengendali. Sebagian laba konsolidasian tidak
sepenuhnya menjadi hak pemegang saham induk.
Lalu lima hal
yang akan saya pantau di laporan berikutnya:
- Penjualan semester II 2026, apakah pertumbuhannya berulang
- Margin usaha tanpa lonjakan pendapatan non-operasi
- Arus kas operasi dibanding laba bersih, apakah kembali mendekati 1 kali
- Hari persediaan dan piutang, apakah makin pendek
- Kontribusi produk baru dan ekspor, serta utilisasi kapasitas pabrik
Namun balik lagi
kalau melihat tesisnya: bila penjualan melambat tajam, margin turun beberapa
kuartal berturut-turut, arus kas operasi terus jauh di bawah laba, penyisihan
persediaan membesar, atau ekspansi tidak menaikkan utilisasi dan pengembalian
modal, maka pandangan ini perlu ditinjau ulang.
Nah, demikian gambaran OMED: bisnis alat kesehatan yang luas, merek yang dikenal, kas yang kuat, dan semester I 2026 yang mengesankan, tetapi dengan arus kas dan kualitas laba yang masih harus dibuktikan. Saran praktisnya, sebelum mengambil keputusan, bandingkan lagi dengan laporan semester II dan harga terbaru dari sumber resmi.
Disclaimer: ini bukan ajakan membeli atau menjual suatu saham tertentu, silahkan melakukan riset secara mandiri.
Sumber :
- Situs resmi OneMed — profil dan kategori produk
- PT Jayamas Medica Industri — laporan tahunan dan keberlanjutan
- Laporan Tahunan dan Keberlanjutan 2025 PT Jayamas Medica Industri Tbk
- Laporan Keuangan Konsolidasian FY2025 PT Jayamas Medica Industri Tbk, diaudit
- Laporan Keuangan Konsolidasian Semester I 2026 PT Jayamas Medica Industri Tbk
- Kemenkes — dorongan penggunaan alat kesehatan dalam negeri, 10 Oktober 2025
- Google Finance — harga saham OMED, penutupan 23 Oktober 2026

