IHSG Smart Focus
INFO PASAR: Data harga saham mengikuti pembaruan dari TradingView dan dapat mengalami keterlambatan.
Analisis Saham Rabu, 28 Oktober 2026 Mr. ROI

Saham AMRT Anjlok 71%: Apakah Valuasinya Sudah Murah?

Gerai Alfamart dalam analisis saham AMRT yang turun 71% dari puncak
Gerai Alfamart, bagian dari bisnis PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)


Laba bersih naik, pendapatan naik, tetapi harga sahamnya justru anjlok lebih dari 70%. Itulah yang sedang terjadi pada PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Menurut data Google Finance, AMRT ditutup di Rp1.020 pada 28 Oktober 2026, jauh di bawah puncaknya di sekitar Rp3.500–3.600 pada akhir 2024. Padahal, menurut laporan keuangan semester I 2026, pendapatannya naik 6,5% dan laba bersih pemilik induknya naik 7,5%. Jadi, apakah ini peluang karena harganya sudah jatuh jauh, atau justru tanda ada yang sedang berubah di bisnisnya?

Ada enam hal yang akan kita bahas satu per satu:

  1. Tren Harga Saham AMRT
  2. Bagaimana kinerja fundamentalnya
  3. Kenapa saham ritel bisa turun lama
  4. Seberapa mahal AMRT dibanding MIDI dan MAPA (PER dan PBV)
  5. Perbandingan fundamental AMRT, MIDI, dan MAPA
  6. Jadi, sahamnya menarik atau tidak?

Nah, kita mulai dari yang pertama.


1. Tren Harga Saham AMRT

Grafik harga saham AMRT (Sumber Alfaria Trijaya) yang turun 71% dari puncak tertinggi
Tren harga saham AMRT selama 5 tahun, Sumber Stockbit.com

Yang paling menarik dari grafik AMRT: setelah sempat naik kuat, saham ini membentuk tren turun jangka panjang yang cukup jelas, bukan sekadar koreksi kecil.

Berdasarkan gambar grafik, puncaknya berada di sekitar Rp3.500–3.600 pada akhir 2024. Harga kemudian turun hingga sekitar Rp1.000–1.020 di ujung grafik. Itu berarti turun sekitar 71–72%, atau kehilangan kira-kira Rp2.500 per saham dari titik puncak.

Tahukah anda, untuk kembali ke Rp3.500 dari Rp1.020, saham ini perlu naik sekitar 243%? Yang itu artinya, pemulihan dari penurunan besar biasanya memerlukan kenaikan persentase yang jauh lebih besar daripada persentase penurunannya.

Pola yang terlihat di grafik:

  1. Kenaikan besar sampai 2022–2023, disusul fase bergerak mendatar di kisaran sekitar Rp2.600–2.900.
  2. Puncak baru di 2024, tetapi kenaikan itu tidak bertahan.
  3. Pantulan yang makin rendah. Sesudah puncak, pantulan-pantulan berikutnya selalu berhenti di harga lebih rendah, sementara harga terus mencetak titik terendah baru.
  4. Penurunan makin tajam sejak 2025. Pantulan sesekali belum mengubah struktur tren turun.

Harga di sekitar Rp1.000–1.200 tampak sebagai area penting di bagian akhir grafik. Namun, dari gambar saja kita belum bisa memastikan apakah area ini akan menjadi dasar, atau hanya jeda sebelum penurunan berikutnya.

Kemudian inilah menariknya: ada perbedaan antara "sudah murah dibanding puncak" dan "benar-benar murah dibanding nilai wajarnya". Penurunan sekitar 72% membuat AMRT layak diteliti ulang, tetapi harga yang murah relatif terhadap puncak bukan sinyal beli dengan sendirinya. Tren di grafik masih lemah, sehingga tesis investasinya perlu diuji lewat pertumbuhan penjualan, margin, arus kas, utang, belanja ekspansi, valuasi saat ini, dan prospek bisnis.

Sebagai investor yang mengutamakan nilai wajar, saya akan memisahkan dua pertanyaan: apakah bisnisnya tetap berkualitas, dan apakah harga sekarang memberi margin of safety? Grafik hanya membantu menjawab pertanyaan kedua, itu pun terbatas. Grafik tidak menjelaskan penyebab penurunan, dan tidak menunjukkan apakah harga sudah di bawah nilai wajarnya.

Kesimpulan dari sisi grafik: tren jangka panjang masih turun. Tanda awal perbaikan yang lebih meyakinkan biasanya berupa harga berhenti membuat titik terendah baru, membentuk titik terendah yang lebih tinggi dari sebelumnya, lalu menembus dan bertahan di atas area resisten, bukan hanya satu kali pantulan.


2. Bagaimana Kinerja Fundamental AMRT?

Okay, lanjut ke bisnisnya. Menurut laporan keuangan FY2025 yang disampaikan ke IDX, AMRT mencatat:

  1. Pendapatan neto sekitar Rp126,74 triliun, naik sekitar 7,2% dari 2024.
  2. Laba usaha sekitar Rp4,56 triliun, naik sekitar 11,9%.
  3. Laba tahun berjalan sekitar Rp3,56 triliun, naik sekitar 10,5%.

Angka ini menunjukkan bisnisnya tetap bertumbuh sepanjang 2025, walau pertumbuhan pendapatannya lebih moderat dibanding lonjakan harga saham di fase sebelumnya.

Bagaimana dengan semester I 2026? Menurut ringkasan hasil yang dilaporkan Quartr, pendapatan naik 6,5% dibanding tahun sebelumnya menjadi Rp67,96 triliun. Laba kotor bertambah 8,3%, laba usaha bertambah 13,2%, dan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 7,5% menjadi sekitar Rp2,03 triliun. Margin kotornya 22,3%, margin usaha 3,94%, dan margin bersih 2,98%.

Catat bahwa ini masih pertumbuhan positif, tetapi pertumbuhan satu digit bisa mengecewakan kalau valuasi sebelumnya mengasumsikan akselerasi yang lebih tinggi.

Sehingga, pelemahan harga tidak dengan sendirinya berarti laba AMRT sedang jatuh. Kita perlu membedakan kinerja operasional saat ini dari perubahan ekspektasi pasar. Kita juga perlu menilai arus kas operasi setelah belanja modal, kebutuhan pendanaan gerai baru, kualitas laba, serta keuntungan yang dihasilkan dari ekspansi.


3. Kenapa Saham Ritel Seperti AMRT Bisa Turun Lama?

Nah, jadi begini. Harga saham mencerminkan ekspektasi masa depan dan valuasi, bukan hanya laba periode berjalan. Kalau investor menilai pertumbuhan ke depan lebih lambat, atau meminta imbalan yang lebih tinggi untuk risikonya, saham yang sebelumnya diperdagangkan dengan valuasi premium bisa mengalami penurunan valuasi meski perusahaannya masih mencetak laba. Arus dana asing dan sentimen pasar juga bisa memperbesar penurunan.

Untuk bisnis ritel, ada beberapa tekanan yang layak dipantau:

  1. Daya beli konsumen yang melemah.
  2. Persaingan dari minimarket lain dan belanja daring.
  3. Kenaikan biaya upah, sewa, energi, dan distribusi.
  4. Pelemahan rupiah, yang dapat menambah tekanan harga pada sebagian barang impor.

Pengaruhnya bisa muncul pada kunjungan pelanggan, ukuran keranjang belanja, pertumbuhan penjualan gerai yang sudah beroperasi (SSSG), dan margin.

Menurut Krungsri Research, kontribusi kelompok menengah terhadap konsumsi domestik turun dari 45,4% pada 2019 menjadi 38,3% pada 2024. Lembaga tersebut juga melaporkan pertumbuhan indeks penjualan ritel melambat menjadi 0,5% pada semester I 2026. Data makro ini tidak membuktikan bahwa semua gerai AMRT melemah, tetapi menjadi risiko bagi pertumbuhan penjualan per gerai, apalagi kalau konsumen mengurangi belanja non-esensial atau beralih ke produk berharga lebih rendah.

Daya beli yang lebih lemah juga membuat ekspansi gerai baru perlu dinilai dari produktivitas lokasinya, bukan dari jumlah tokonya saja. Kalau penjualan awal gerai baru rendah sementara sewa, upah, dan logistik tetap naik, periode balik modalnya bisa makin panjang. Menurut riset KB Valbury pada April 2026, AMRT berencana membuka sekitar 1.000 gerai neto pada 2026 dengan target SSSG 4–5%. Perlu diingat, itu rencana dan estimasi pada saat riset ditulis, bukan hasil yang sudah terealisasi.


4. Seberapa Mahal AMRT Dibanding MIDI dan MAPA?

Dalam tulisan ini, harga dan valuasi hanya memakai data Google Finance. Menurut Google Finance, harga penutupan dan PER pada 28 Oktober 2026 adalah sebagai berikut:
Perbandingan Harga AMRT dengan MIDI dan MAPA
Perbandingan valuasi AMRT vs MIDI vs MAPA


PER ini adalah angka pada saat data diambil, dan bisa berubah mengikuti harga saham maupun laba yang dipakai Google Finance.

AMRT punya PER lebih tinggi daripada MIDI dan MAPA pada tanggal acuan. Artinya, pasar menghargai setiap rupiah laba AMRT lebih mahal. Premi itu mungkin mencerminkan skala AMRT dan karakter minimarket kebutuhan sehari-hari yang relatif defensif. Namun, premi tetap harus dibenarkan oleh pertumbuhan laba, SSSG, margin, dan hasil ekspansi.


5. Bagaimana Perbandingan Fundamental AMRT, MIDI, dan MAPA?

Ngomong-ngomong, balik lagi ke soal bisnis. Mari kita lihat satu per satu.

AMRT. Pada semester I 2026, pendapatan AMRT tumbuh 6,5% dan laba bersih pemilik induk tumbuh 7,5%. Jaringan minimarketnya memberi skala dan eksposur besar ke barang kebutuhan harian. Namun AMRT tetap sensitif pada SSSG, produktivitas gerai, biaya operasional, dan belanja ekspansi.

MIDI. MIDI adalah pembanding operasional yang paling dekat karena mengelola format seperti Alfamidi. Menurut laporan interimnya, pendapatan semester I 2026 sebesar Rp11,247 triliun, dibanding Rp10,370 triliun setahun sebelumnya, atau tumbuh sekitar 8,45%. Laba bersih pemilik induk Rp486 miliar, dibanding Rp391 miliar, naik sekitar 24%. Menurut presentasi manajemen MIDI, ada penambahan bersih 75 gerai pada semester tersebut dan SSSG Alfamidi sebesar 3,9%. Dengan perlakuan tertentu atas isi ulang pulsa dan data, angka pembanding SSSG-nya ikut berubah.

Pertumbuhan laba MIDI terlihat lebih cepat daripada pendapatannya, dan lebih cepat daripada AMRT di periode ini. Tetapi kita harus hati-hati. Perusahaan mengubah klasifikasi pengakuan pendapatan isi ulang pulsa dan data pada 2026, dan entitas Lawson dijual pada 2025. Perubahan komposisi dan basis pembanding itu membuat kita perlu mengecek apakah akselerasi laba berlanjut di periode berikutnya.

MAPA. MAPA adalah PT Map Aktif Adiperkasa Tbk, perusahaan ritel aktif dan gaya hidup dengan merek olahraga, fesyen, dan kategori lainnya. Jangan tertukar dengan induknya, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Menurut laporan resmi MAPA, pendapatan semester I 2026 mencapai Rp10,123 triliun dibanding Rp8,795 triliun, tumbuh sekitar 15,1%. Laba usaha naik dari Rp954 miliar menjadi Rp1,199 triliun, sekitar 26%. Laba bersih pemilik induk naik dari Rp662 miliar menjadi Rp864 miliar, sekitar 30,5%.

Catat bahwa angka pertumbuhan pendapatan 23,4% dan laba 26,9% yang mungkin pernah anda lihat merujuk pada grup MAPI, bukan emiten MAPA, sehingga tidak dipakai di tulisan ini.

MAPA memang punya pertumbuhan semester I 2026 yang kuat. Namun, model bisnisnya lebih terpapar belanja diskresioner dan tren merek, dibanding AMRT dan MIDI yang lebih berorientasi pada kebutuhan harian. Karena model bisnis dan risikonya berbeda, PER yang lebih rendah tidak otomatis berarti MAPA lebih murah secara intrinsik.


6. Jadi, Sahamnya Menarik atau Tidak?

Okay, lanjut ke pertanyaan utamanya. Grafik menunjukkan tren harga AMRT jangka panjang masih turun setelah puncak 2024, sedangkan laporan terakhir menunjukkan fundamentalnya tetap tumbuh. Perbedaan ini bisa dijelaskan oleh turunnya ekspektasi dan valuasi, arus dana, serta kekhawatiran soal daya beli dan margin.

Menurut data Google Finance pada 28 Oktober 2026, AMRT diperdagangkan lebih mahal daripada MIDI dan MAPA berdasarkan PER. 

Pendapat saya: AMRT layak diteliti ulang setelah turun sekitar 71%, tetapi belum bisa disebut murah hanya karena harganya sudah jauh di bawah puncak. Siapa yang tahu apakah Rp1.000–1.200 benar-benar menjadi dasar? Yang bisa kita lakukan adalah memantau bukti dari bisnisnya.

Ada empat hal yang menurut saya perlu dipantau:

  1. Apakah SSSG AMRT bertahan.
  2. Apakah laba usaha terus tumbuh setidaknya sejalan dengan pendapatan.
  3. Apakah gerai baru menghasilkan arus kas dan pengembalian yang memadai. Kalau gerai bertambah tetapi SSSG, margin, dan produktivitas melemah, ekspansi hanya menaikkan omzet tanpa menaikkan nilai ekonomi yang sebanding.
  4. Apakah harga berhenti membuat titik terendah baru dan bertahan di atas area hambatan penting.

Kalau keempatnya bertahan, itu akan memberi bukti yang lebih kuat bahwa model bisnis AMRT mampu menghadapi konsumen yang lebih berhati-hati.


Disclaimer: ini bukan ajakan membeli atau menjual suatu saham tertentu, silahkan melakukan riset secara mandiri.


Sumber:

Tools Analisis Valuasi

Kalkulator Margin of Safety (MoS)

Hitung estimasi Nilai Intrinsik dan Harga Beli Target berdasarkan pertumbuhan proyeksi laba per saham (EPS) serta Margin of Safety yang Anda kehendaki.

Rp
Rp

Ringkasan Hasil Analisis

EPS Proyeksi: -
Nilai Intrinsik: -
Harga Beli Target (Berdasarkan Target MoS): -
Margin of Safety Saat Ini: -
Kesimpulan Signal Valuasi:
-
Disclaimer Edukasi: Kalkulator ini hanya untuk tujuan simulasi & edukasi, bukan rekomendasi jual/beli saham. Keputusan investasi ada sepenuhnya di tangan masing-masing investor.