![]() |
Bayangkan sebuah warung kecil yang pelanggannya mulai pindah ke warung besar di seberang jalan, sementara harga bahan baku malah naik. Mau menaikkan harga jual, takut pembeli kabur. Mau ditahan, untungnya menipis. Kira-kira begitulah situasi sebagian bank kecil kita sekarang. Pertanyaannya, apakah ini tanda likuiditas perbankan sedang krisis? Dan saham mana saja yang terkena?
Kesimpulan Dulu, Biar Tidak Penasaran
Menurut saya, ini kabar negatif yang sifatnya selektif untuk bank kecil. Ini bukan sinyal bahwa likuiditas seluruh industri perbankan sedang krisis. Yang paling mengkhawatirkan bukan cuma dana nasabah yang menyusut, tetapi dana yang menyusut sambil harga pendanaan naik. Dua hal ini datang bersamaan.
Apa yang Terjadi?
Menurut berita Kontan, dana pihak ketiga (DPK) bank kelompok KBMI I turun 8,14% secara tahunan pada Agustus 2026. Di saat yang sama, Bank Indonesia menaikkan suku bunga fasilitas simpanan (deposit facility) menjadi 5%. Kenaikan ini berpotensi membuat biaya memperoleh dana di pasar uang ikut naik.
Nah, bank kecil jadi menghadapi pilihan yang sama-sama tidak enak:
Ikut menaikkan bunga simpanan. Biaya dana naik dan margin bunga bersih (NIM) bisa tertekan.
Menahan bunga simpanan. Bank berisiko kehilangan deposan, atau terpaksa memperlambat penyaluran kredit.
DNAR: Dampak Paling Langsung
Dari semua emiten yang disebut, DNAR (OK Bank) yang paling langsung terkena. Menurut berita Kontan yang sama, rasio kredit terhadap simpanan (LDR) DNAR mencapai 131,04% per Agustus 2026. Artinya, kredit yang disalurkan jauh lebih besar daripada dana simpanan yang dihimpun.
Catat bahwa ini bukan bukti bank gagal bayar. Tapi posisi seperti ini membuat DNAR lebih bergantung pada pendanaan di luar DPK, sehingga lebih sensitif terhadap biaya dan ketersediaan dana.
Menurut berita tersebut, manajemen akan memperkuat DPK, mendiversifikasi sumber pendanaan, dan menyalurkan kredit lebih selektif. Menurut saya, langkah ini masuk akal. Konsekuensinya, kalau dana baru mahal atau sulit didapat, pertumbuhan kredit dan laba bisa melambat.
Bagaimana dengan BBYB, AGRO, MCOR, dan BBSI?
Keempatnya patut dipantau, tapi tingkat risikonya belum tentu sama dengan DNAR. Dampaknya tergantung pada tren DPK, dana murah (CASA, yaitu giro dan tabungan), LDR, kualitas aset, dan akses pendanaan masing-masing.
BBSI (Krom Bank) punya penyeimbang yang relatif positif. Menurut laporan Krom Bank yang dimuat Kontan, CASA mereka mencapai Rp2,42 triliun per Mei 2026, tumbuh 161% secara tahunan. Krom Bank juga menyatakan fokus membangun dana murah, bukan ikut perang bunga deposito. Ini membantu meredam tekanan biaya dana. Tapi data tersebut hanya sampai Mei, jadi belum jaminan tren yang sama berlanjut.
Kabar Baiknya Apa?
- Bank terdorong membenahi komposisi dana. Tekanan ini bisa memaksa bank memperbanyak CASA dan mengendalikan kredit. Bank kecil yang punya ekosistem deposan kuat justru bisa menunjukkan daya tahan dan merebut pangsa pasar.
- Peluang konsolidasi atau tambahan modal. Bank bisa mencari mitra atau suntikan modal. Tapi hati-hati, ini masih sebatas kemungkinan, dan belum tentu menguntungkan pemegang saham karena aksi modal bisa menimbulkan dilusi.
- Keuntungan relatif bagi bank besar. Dana bisa berpindah ke nama yang dianggap lebih aman. Namun ini bukan jaminan laba naik, karena persaingan bunga simpanan bisa menekan mereka juga.
Lalu, Risikonya?
- NIM tertekan. Biaya dana naik lebih cepat daripada bunga kredit.
- Pertumbuhan kredit melambat. Bank menahan penyaluran demi menjaga likuiditas, sehingga pendapatan bunga tumbuh lebih pelan.
- Sentimen negatif. Saham bank dengan LDR tinggi atau DPK lemah bisa dinilai lebih berisiko dan harganya lebih bergejolak.
Jadi, Apa yang Perlu Dipantau?
Sebelum menyimpulkan saham mana yang benar-benar rentan, cek laporan terbaru tiap emiten:
- Pertumbuhan DPK dan CASA
- LDR
- Biaya dana dan NIM
- Kualitas kredit
Siapa yang tahu, bisa jadi bank kecil yang paling tahan banting nanti justru yang paling menarik.
Disclaimer: ini bukan ajakan membeli atau menjual suatu saham tertentu, silahkan melakukan riset secara mandiri.
