Kredit tumbuh jauh lebih cepat daripada laba. Itu satu hal yang bikin saya masih mengernyit saat membaca laporan BCA, padahal hampir semua indikator lainnya terlihat kinclong.
Coba hitung berapa kali kamu pakai BCA hari ini. Gaji masuk ke rekening BCA, bayar parkir pakai QRIS, transfer ke teman lewat m-banking, lalu cek saldo sebelum tidur. Kamu mungkin tidak sadar, tapi semua itu adalah mesin uang bagi bank dengan kode saham BBCA ini.
Menurut data perusahaan per September 2026, BCA melayani lebih dari 42 juta rekening nasabah dan memproses lebih dari 125 juta transaksi setiap hari. Bayangkan saja, 125 juta kali orang mengetuk layar, menggesek kartu, atau memindai kode QR dalam 24 jam.
Pertanyaannya, apakah dominasi ini cukup untuk menjaga pertumbuhan bisnis BCA dalam jangka panjang? Mari kita bedah angkanya satu per satu.
BCA bukan sekadar bank besar, tapi bank yang bikin nasabah susah pindah
Banyak orang menilai BCA dari besarnya aset. Menurut saya, kekuatan yang sebenarnya ada di tempat lain, yaitu kemampuan membangun ekosistem yang membuat nasabah terus pakai layanannya.
Transfer, pembayaran tagihan, QRIS, mobile banking, sampai kebutuhan bisnis perusahaan, semuanya menghasilkan pendapatan bagi BCA. Semakin sering nasabah memakai satu bank, semakin besar peluang bank itu mempertahankan mereka dan menjual produk keuangan lainnya.
Inilah keunggulan kompetitif BCA yang menurut saya paling layak diperhatikan investor.
Kredit ngebut, laba jalan santai
Reputasi saja tidak cukup untuk menilai sebuah bank, jadi kita lihat angkanya. Menurut laporan kinerja BCA hingga September 2026:
Laba bersih (bersama entitas anak) mencapai Rp45,2 triliun, naik 4,2 persen dari periode yang sama tahun lalu.
Kredit mencapai Rp1.063 triliun, tumbuh 12,6 persen secara tahunan (YoY).
Dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp1.301 triliun, naik 8 persen dibanding September 2025.
Dana murah (CASA) tumbuh 10,4 persen menjadi Rp1.103 triliun.
Kredit tumbuh lebih cepat daripada DPK. Artinya BCA cukup agresif menyalurkan pembiayaan, dan ini tentu harus diimbangi pengelolaan likuiditas yang baik.
Nah, ini yang bikin saya mengernyit. Laba hanya naik 4,2 persen, sementara kredit melesat 12,6 persen. Pertumbuhan penyaluran kredit belum sepenuhnya tercermin di laba. Bisnis yang tumbuh besar belum tentu menghasilkan untung yang naik dengan persentase sama. Jadi catat baik-baik, ini yang perlu kamu pantau di laporan periode berikutnya, apakah kesenjangannya menyempit atau malah melebar.
Dana murah, rahasia yang bikin BCA tenang
Kalau harus memilih satu kekuatan terbesar BCA, saya memilih dana murah.
Bank itu mirip warung makan. Dana dari masyarakat adalah bahan baku untuk “memasak” kredit. Tapi harga bahan bakunya tidak sama. Dana yang berasal dari giro dan tabungan disebut CASA (Current Account Saving Account) dan biayanya murah. Deposito punya bunga yang lebih tinggi, jadi biaya bank pun lebih besar.
Per September 2026, CASA BCA Rp1.103 triliun dari total DPK Rp1.301 triliun. Kalau dihitung, porsinya sekitar 84,8 persen. Hampir semua dana yang dihimpun BCA datang dari giro dan tabungan.
Kenapa bisa begitu? Karena banyak nasabah memakai rekening BCA untuk menerima gaji, menjalankan usaha, membayar ini-itu, sampai menyimpan dana operasional. Semakin sering rekening dipakai bertransaksi, semakin kecil alasan nasabah memindahkan uangnya.
Tapi jangan lengah. Saat likuiditas industri ketat, persaingan mendapatkan dana masyarakat bisa memaksa bank menawarkan bunga simpanan lebih tinggi. Karena itu biaya dana (cost of fund) tetap perlu dipantau.
Kredit produktif, dari korporasi sampai UKM
Selain dana murah, mesin pendapatan bank tentu kredit. Menurut data yang sama, kredit produktif BCA mencapai Rp831 triliun, tumbuh 17,2 persen YoY. Rinciannya:
- Kredit korporasi tumbuh 20,9 persen menjadi Rp528,1 triliun.
- Kredit komersial tumbuh 7,8 persen menjadi Rp154,1 triliun.
- Kredit UKM tumbuh 15,4 persen menjadi Rp149,2 triliun.
Artinya BCA tidak hanya bertumpu pada kredit konsumer. Eksposurnya besar ke dunia usaha, jadi kalau ekonomi bergerak, kebutuhan modal kerja dan pembiayaan investasi ikut naik.
Meski begitu, angka pertumbuhan yang tinggi belum tentu sehat. Bagi saya, pertumbuhan kredit yang sehat jauh lebih penting daripada besarnya angka penyaluran.
Digitalisasi, keunggulan yang sulit diabaikan
Dulu urusan bank identik dengan antre di kantor cabang dan mencari mesin ATM. Sekarang transfer, bayar tagihan, sampai belanja bisa dilakukan dari ponsel. BCA terus mengembangkan layanan lewat BCA mobile dan myBCA.
Ini bukan sekadar ikut tren. Semakin banyak transaksi digital, semakin besar peluang bank meningkatkan efisiensi layanan dan mempertahankan nasabah. Nasabah yang sudah terbiasa dengan satu ekosistem juga punya alasan untuk bertahan, dan itu jadi penghalang bagi pesaing.
Tapi posisi ini bukan berarti tak bisa diganggu. Bank lain makin gencar mengembangkan layanan digital, dan perusahaan teknologi keuangan makin agresif menawarkan kemudahan transaksi. Investasi di teknologi, infrastruktur digital, keamanan siber, dan perlindungan data juga tidak murah.
Kredit gede, tapi apakah bisa dibayar?
Pertumbuhan kredit yang tinggi memang menarik, tapi risiko terbesar bisnis bank justru ada di kredit bermasalah. Menurut laporan September 2026, BCA mencatat:
Gross NPL (Non Performing Loan) sekitar 1,8 persen, yaitu persentase kredit bermasalah terhadap total kredit.
Loan at Risk (LAR) 4,6 persen, yaitu cakupan kredit berisiko yang lebih luas.
Untuk saat ini, angka tersebut menunjukkan kualitas kredit BCA masih terjaga. Tapi kalau ekonomi melemah dan kemampuan bayar debitur tertekan, ceritanya bisa berubah. Bank yang kreditnya tumbuh kencang sambil kualitas asetnya memburuk punya risiko yang sangat berbeda dari bank yang bisa menjaga keseimbangan keduanya.
Empat risiko yang tidak boleh dianggap enteng
BCA punya banyak keunggulan, tapi bukan berarti bebas masalah. Ada empat hal yang menurut saya perlu kamu perhatikan.
1. Persaingan perbankan makin ketat
Bank besar lain terus memperbaiki layanan digital, memperluas jaringan, dan menawarkan produk baru. Kalau ada yang mampu memberi layanan lebih murah atau pengalaman lebih nyaman, BCA harus terus berinovasi.
2. Ekonomi melambat
Saat daya beli melemah dan bisnis melambat, permintaan kredit bisa tertekan. Risiko yang lebih besar muncul kalau debitur kesulitan membayar cicilan. Kredit bermasalah naik, dan bank terpaksa menyisihkan pencadangan kerugian lebih banyak.
3. Margin bunga tertekan
Pendapatan bank sangat bergantung pada selisih bunga kredit dan biaya dana. Kalau persaingan bunga deposito meningkat atau biaya dana naik, margin bisa menyempit. Pada kuartal III 2026, Net Interest Margin (NIM) BCA dilaporkan membaik menjadi sekitar 5,3 persen dari 5,1 persen pada kuartal sebelumnya. Kabar baik, tapi belum menjamin margin terus naik di periode berikutnya.
4. Risiko teknologi dan keamanan digital
Semakin besar transaksi digital, semakin besar tanggung jawab menjaga sistem dan data nasabah. Gangguan sistem, penipuan digital, atau serangan siber bisa menggerus kepercayaan, padahal kepercayaan nasabah adalah salah satu aset terpenting BCA.
Prospek lima sampai sepuluh tahun ke depan
Kalau semua faktor tadi dijumlahkan, BCA masih punya banyak modal:
- Basis nasabah yang besar untuk mengembangkan transaksi perbankan.
- Dana murah melimpah, dengan CASA sekitar 84,8 persen dari DPK.
- Kredit produktif yang tumbuh di segmen korporasi, komersial, dan UKM.
- Layanan digital yang menjaga relevansi di tengah perubahan perilaku masyarakat.
BCA juga punya entitas anak di bidang pembiayaan kendaraan, perbankan syariah, sekuritas, asuransi, perbankan digital, dan modal ventura. Jadi sumber pendapatannya tidak hanya dari perbankan konvensional.
Tapi mari realistis. Sebesar apa pun, bank tidak bisa terus-terusan mencetak pertumbuhan laba tinggi setiap tahun. Semuanya tetap dipengaruhi kondisi ekonomi, suku bunga, persaingan, kualitas kredit, dan kemampuan manajemen menjaga efisiensi. Bagi investor jangka panjang, pertanyaannya bukan seberapa besar BCA sekarang, melainkan apakah keunggulannya masih bertahan lima sampai sepuluh tahun lagi.
Bisnisnya bagus, tapi harga belinya berapa?
Dari semua indikator tadi, BCA jelas punya fondasi yang menarik: dana murah besar, kredit tumbuh, ekosistem transaksi digital, dan kualitas aset yang relatif terjaga. Wajar kalau BBCA selalu masuk radar investor di pasar saham Indonesia.
Tapi ada satu hal yang sering terlupa. Perusahaan bagus belum tentu jadi investasi bagus kalau dibeli dengan harga terlalu mahal.
Saya menganut pendekatan Value investing. Jadi buat saya, kualitas bisnis saja tidak cukup. Nilai intrinsiknya perlu dihitung, dibandingkan dengan harga pasar, lalu dilihat apakah ada Margin of Safety. Sebagus apa pun perusahaannya, harga beli tetap menentukan untung yang bisa kamu bawa pulang.
Pada akhirnya, investasi bukan soal membeli perusahaan yang paling terkenal, tapi mendapatkan bisnis berkualitas dengan harga yang masuk akal.
Disclaimer: ini bukan ajakan membeli atau menjual suatu saham tertentu, silahkan melakukan riset secara mandiri.
Sumber:
.png)